Monthly Archives: April 2018

Mengabdi pada kebaikan, asalkan menjadi baik (R.A Kartini’s Day)

“Karena saya yakin sedalam-dalamnya, perempuan dapat menanamkan pengaruh besar ke dalam masyarakat, maka tidak ada sesuatu yang lebih baik dan lebih sungguh-sungguh yang saya inginkan kecuali dididik dalam bidang pengajaran, agar kelak saya dapat mengabdikan diri kepada pendidikan anak-anak perempuan kepala-kepala Bumpiputera. Aduhai, ingin sekali, benar-benar saya ingin mendapat kesempatan memimpin hati anak-anak, membentuk watak, mencerdaskan otak muda, mendidik perempuan untuk masa depan, yang dengan baik akan dapat mengembangkannya dan menyebarkannya lagi.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya

Tidak pernah habis bahasan setiap kali memperbincangkan tentang peran seorang perempuan. Tidak hanya sebagai seorang lawan jenis dari kaum Adam, perempuan punya keistimewaan untuk membuat sesuatu menjadi lebih berharga dari berbagai latar belakang. Entah itu agama, pendidikan, keyakinan atau bahkan keinginan. Perempuan adalah sosok yang menenangkan bahkan dari zaman ke zaman, yang terbelakang hingga terdepan. Kita tidak bisa melupakan pentingnya kehadiran seorang perempuan pada masa penjajahan, dimana perempuan dipandang tidak berperan dalam perkembangan zaman. Ada satu sosok perempuan Indonesia punya semangat juang yang besar di balik pingitan. Perempuan yang dikodratkan untuk berada di belakang, tapi tidak dengan jiwanya. Dia yang berjiwa besar merasa berjalan di lorong yang sempit, tapi punya banyak cara untuk mengalirkan pikiran-pikiran besarnya. Ia menulis surat kepada sahabat-sahabatnya, yang mengungkapkan kegelisahan dan keterbatasan geraknya. Ia mengutarakan keinginannya untuk masa depan bangsanya, bukan untuk dirinya. Dia masih bisa menerima apa yang dikodratkan, tapi tidak untuk meneruskannya kepada anak cucunya.

Itu sedikit pandangan saya tentang seorang pahlawan yang menjunjung tinggi peran perempuan, yang menyadarkan bangsa Indonesia bahwa Indonesia butuh peran perempuan di berbagai bidang. Tidak hanya mengurusi keluarga, namun juga bangsa. Saya pribadi berharap dapat menjadi salah satu wujud mimpi Ibu Kartini, terlepas dari keberagaman agama, pendidikan, budaya dan sebagainya. Perempuan itu istimewa.

Pernah suatu ketika saya berbincang-bincang dengan seorang pendidik di sebuah perjalanan menuju pulang. Kami tidak bertatapan muka tapi kami bersahut-sahutan. Jarak usia kami cukup jauh, tapi kesan pertama saya terhadap beliau tertuju pada kesuksesannya di bidang karirnya, yaitu pendidikan. Beliau adalah seorang pendidik yang pada saat itu menceritakan tempat-tempat yang pernah ia singgahi untuk menebarkan ilmunya. Ia juga menceritakan kota-kota yang pernah ia kunjungi dan ia lihat perkembangan pendidikannya. Saya tertarik, dan kami berbincang cukup lama sampai akhirnya hampir tiba di rumah. Di dalam perjalanan itu saya bertanya tentang bagaimana perkembangan adik-adik sekolah saat ini, dan saya pun berbagi cerita bagaimana pengalaman saya selama menjadi seorang pelajar. Saya punya pengalaman sedikit berbeda karena harus berjuang mendapatkan pendidikan lebih lanjut di kota lain. Pernah mengalami hambatan karena faktor luar daerah. Memang mungkin belum semua orang paham bahwa pendidikan itu sama rata nya. Pendidikan itu disebarkan secara merata tanpa memandang pulau dan suku manapun. Ketika itu saya pernah dipandang rendah karena berasal dari daerah, bahkan daerah di luar pulau. Saya masih menganggap wajar ketika respon orang lain jika cenderung pada hasil akhir yang saya dapatkan. Tetapi berbeda dengan beliau yang menanggapi dengan sudut pandang yang berbeda. Kurang lebih beliau mengatakan seperti ini :

‘Sebenarnya orang-orang di pulau itu pendidikan nya juga tidak semuanya bagus. Kalau dilihat dari rata-rata per kota atau provinsi, mungkin memang bisa dilihat keunggulannya tetapi dalam satu kota tidak semuanya juga bagus. Saya pernah ke kota itu dan kebetulan saya ke sekolah yang biasa saja. Malah prestasi anak-anak kita di kota kita jauh lebih tinggi daripada mereka. Cuma mereka terlalu sombong saja dengan perkembangan kotanya. Itu saja. Bahkan coba kita lihat ke belakang pemimpin-pemimpin yang menginisiasi proklamasi itu siapa?! Orang-orang yang berasal dari daerah kita. Kebanyakan beliau-beliau itu cerdas, pintar. Mereka yang jadi kunci dari keberhasilan kemerdekaan Indonesia ini. Sementara orang-orang mereka hanya menjalankannya saja. Dulu itu  orang-orang sana justru menjadi bawahan, suruhan dan sebagainya. Bahkan kalau ditilik lagi ke belakang masih harus dipertanyakan mengapa Kartini itu bisa menjadi pahlawan. Padahal ia hanya menulis surat, dia tidak melakukan apa-apa untuk bangsanya. Sama seperti kita membuat diari. Ya sudah, apa coba istimewanya? Dan kemudian dia menjadi pahlawan.’

Kurang lebih itu inti pembicaraannya yang masih terngiang-ngiang di kepala saya karena betapa tidak menerimanya saya dengan statement beliau. Beliau, yang perlu digarisbawahi, adalah seorang “pendidik”, beliau berbangga bangga dengan track’recordnya di dunia pendidikan. Spontan merespon pengalaman orang lain dengan menyinggung peran seorang pahlawan. Layaknya ia telah menjadi pahlawan yang lebih hebat dalam memajukan bangsa. Layaknya ia telah berperan besar dalam mendidik bangsa. Kontras sekali dengan kutipan pada salah satu surat Ibu Kartini kepada sahabatnya : “Tidak menjadi soal bagaimana caranya mengabdi kepada kebaikan, asalkan baik saja.” Maaf, Bapak, tapi kali ini apresiasi saya yang tinggi sebelumnya melejit turun karena respon spontan bapak yang tidak Senada dengan harapan Ibu Kartini. Pun pahlawan-pahlawan yang tadinya Bapak puji bisa merasa kecewa juga, jika beliau-beliau mendengarnya. Bagaimana hendak mengabdi pada kebaikan jika tidak bisa menjadi baik :”)

Selamat Hari Kartini. Semoga kita menjadi pewujud mimpi Ibu Kartini yang tulus mengabdi dalam kebaikan. Aamiin.

 

21042018. Bersama memori yang terseret angin lama.

Advertisements
Advertisements