Sympathy

Tidak banyak yang paham dengan apa yang orang lain alami. Simpati tidak cukup untuk merasakan kejadian yang orang lain rasakan. Bukan berarti tidak dibutuhkan, tetapi dalam bersimpati ada batasnya. Walau bagaimanapun, simpati masih lebih baik daripada diam. Tapi diam jauh lebih baik daripada merespon dengan tidak pantas, dalam bentuk kata-kata atau sikap.

Mungkin orang-orang yang “terjatuh” dan menerima simpati dari orang lain sering berkata “You don’t know what I feel. Saya sudah melakukan berbagai macam cara dan gagal. Saya sudah melewati banyak jalan dan gagal. Saya sudah bersabar dan gagal.” Kalimat-kalimat negatif ini selalu muncul setiap kali rasa menyerah menghampiri.

Untuk kamu yang melewati perjalanan hidup dengan mulus, how lucky you are. Kemudahan mengiri langkahmu. Tapi jangan berjalan tanpa melihat jalan. Walaupun jalanan mulus, langkahmu bisa saja terhenti. Tersandung kerikil, terinjak kotoran, terperosok ke lubang jalanan, tersenggol kendaraan, tertabrak mobil, dan hal tiba-tiba lainnya.

Untuk kamu yang mendapati kendala akibat kelalaianmu, how lucky you are. Belajarlah untuk berlaku tidak serupa. Ingat kata orang banyak? “pengalaman adalah guru terbaik.” Jika di langkah selanjutnya hambatanmu sama, bukan lagi karena kurangnya pengalaman. Tapi karena kurangnya keinginan belajar.

Untuk kamu yang punya kekurangan, how lucky you are. Kamu punya kesempatan untuk mempelajari keadaan yang tidak semua orang alami. Kamu bisa menyikapi situasi dari berbagai sisi : dengan dan tanpa kekurangan. Disinilah momen “simpati” lahir, yaitu di saat dirimu berhasil melewati situasi dengan dua sisi tersebut, dan nanti tahu yang orang lain rasakan ketika mendapati kekurangan yang sama. Aku tidak bermaksud angkuh, tapi aku diberi kesempatan merasakan fase ini. Rasanya ……… indah. I’ll share it some other time. Try it, maybe we can share each other 🙂

Darimana datangnya celoteh ini? Dari rasa syukurku kemarin hari, dipertemukan dengan dua sosok yang banyak mengingatkanku dengan fase yang lebih berat daripada hari ini. Jangan ukur perjalananku dengan pengukur yang sama dengan mereka. Aku punya perjalanan panjang, yang pengukurnya hanya Ia yang punya 🙂

Salam, Saya.

Pada Selasa yang tertunda.170118

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: