Kadar Bahagia Seorang Penikmat Perjalanan (1)

Tampaknya celotehan orang bijak banyak benarnya. Mereka berujar perjalanan memberikan banyak buah tangan, sekalipun tidak membawa bekal sejak berpamitan pergi.

Sedari kecil mainset anak-anak pada umumnya ingin menjalani profesi yang umumnya dikenal dari sumber rejeki orang tua, keluarga atau kerabat di lingkungan sekitarnya. Belum ada ide-ide liar yang beterbangan di benak si kecil untuk setiap masa dewasa yang akan ia lalui, hingga pada akhirnya berjumpa dengan rasa nyaman pada satu titik, dimanapun itu. Mereka yang berkesempatan mendapatkan ide liar ini menemukan rasa nyamannya, untuk berkembang menjadi individu yang lebih baik lagi, bukan dari balik meja kerja, berlindung dari helm proyek pembangunan atau bersahabat dengan jas putih.
Mereka menggunakan pakaian ternyamannya, bersama tas yang lengkap dengan paket siaga hujan-panas serta keadaan darurat yang masuk akal akan ditemui esok hari, lusa, dan esoknya lagi. Adalah orang-orang yang punya segudang alasan, mengapa lebih menuruti rasa penasaran kesana-kemari daripada menunggu yang tak pasti atau hal mainstream terjadi.
Tidak, perjalananku belum sejauh pelaku ekspedisi yang punya misi besar, pun belum sehebat petualang yang nekadnya luar biasa dan tak punya rasa takut dengan gelapnya hutan dan dalamnya lautan. Aku punya segudang kekhawatiran dan banyak keinginan. Aku punya ketakutan yang tidak jarang mengurungkan kayuh untuk membawa perahu terbawa arus. Aku punya kegagalan yang tidak sedikit di setiap persinggahan, yang aku lebih memilih mengumpulkannya ke ruang kosong motivasi daripada membuangnya ke alam bawah sadar dan menjadi duri yang menusuk-nusuk dari dalam.
Maka dari segala kerumitan itu, pandangan sempit tak membantu sama sekali. Langkah kaki tetap saja digerakkan sekalipun duri di telapak kaki tidak menjanjikan jalanan yang mulus, hujan tidak menjanjikan tempat berteduh, dan tempat tujuan belum tentu memberikan bongkahan yang dicari. Bekalku tak banyak. Rasa penasaran. Restu orang tua. Dan harapan. Maka berangkatlah.
Tidak ada rencana dan persiapan untuk setiap perjalanan yang kulalui. Melangitkan doa dan membumikan perilaku, banyak pesan dan rezeki yang Tuhan titipkan, dari tangan ke tangan, dari mulut ke mulut. Siapa sangka rasa syukur akan bertambah dari seorang supir angkutan antar kota, seorang tukang sol sepatu, bahkan seorang anak penjual makanan ringan di SPBU. Dan siapa sangka, ternyata kali ini aku sedang menjalani sesuatu yang jauh lebih penting daripada mengisi kantong sendiri dan menjaring kolega dengan skill pribadi. (to be continued)
.
.
Rumah, salah satu Selasa, November Rain, 2017
Salam,

Saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: