Perantau Berbicara

Tumbuh dan berkembang di tanah rantau adalah pilihan masing-masing orang, termasuk saya. Ada banyak alasan orang memilih tempat selain kampung halamannya, dan ada banyak pula masanya. Ada yang mengikuti keluarganya, ada yang ingin kuliah di kampus idamannya, ada yang mendapatkan penempatan kerja di kota lain, ada yang sengaja datang ke kota lain mencari pekerjaan, ada yang mengikuti suami/isterinya agar tidak lelah oleh efek LDR. Masih banyak alasan lain, dengan waktu-waktu yang berbeda.

Seketika menapakkan kaki di rantau untuk waktu yang lama, skill adaptasi harus dikembangkan. Kita akan berjumpa dengan gaya hidup orang sekitar yang berbeda, dialek bahasa yang tidak sama, bahkan nasi dan lauk yang rasanya sama jauhnya dengan jarak ke rumah.

Tidak hanya itu, bahkan untuk kebiasaan masyarakat sekitar pun harus lebih mengamati. Cara warga setempat mempersiapkan pernikahan, menyambut Maulid Nabi, bahkan cara berdiskusi dalam satu kelompok (ada yang langsung to the point, ada yang harus izin ke orang yang lebih tua dulu, ada yang harus menunggu acc orang yang lebih expert dulu, dll).

Percayalah, kami para perantau adalah orang-orang yang akrab dengan rindu ๐Ÿ™‚

Berjumpa orang yang berdaerah asal pun jarang dialami. Jika pada masa yang tidak diperkirakan dipertemukan, giranglah hati menyambutnya. Apalagi jika di dalam satu tim ketja, satu organisasi, atau satu area tempat tinggal. Bahasa universal spontan berubah menjadi bahasa daerah. Saling mengenal daerah asal, lebih heboh lagi kalau asal daerahnya sama. Tua-muda, laki-laki-perempuan, tidak jadi masalah untuk sebuah kebahagiaan kecil seperti itu. Gelembung-gelembung rindu pada rumah menari-nari di sekitar kita.

Pun tidak berjumpa untuk jangka panjang, paling tidak terlepas sedikit ikatan rindu. Pernah suatu kali saya menumpang di salah satu mobil jasa transportasi online. Saya tergolong penumpang yang “manut” driver, jika ia tak banyak merespon, saya tidak akan melanjutkan. Mungkin beliau tipe driver yang konsentrasi ketika menyetir mobil. Tetapi ada juga yang lebih senang diajak ngobrol supaya tidak cepat bosan dan mengantuk.

Kebetulan bapak yang satu ini lebih komunikatif. Ketika melewati sebuah rumah berbentuk rumah gadang (rumah adat khas Minang) yang menarik perhatian, beliau menanyakan saya,

Driver : “Adek tau ga ini rumahnya siapa? Rumahnya bagus banget. Adem liatnya.”

Saya : “Wah, kurang tau, Pak. Iya saya juga sering jalan lewat sini, enak diliatin. Ada rumah gadangnya.”

D : (mikir) “Loh adek aslinya mana? ”

S : (ughh.. that question. The hardest question ever in my life) Mmm saya tinggalnya di Jogja Pak.”

D : “Asli Jogja? Orang tua orang sana?”

S : “Oh engga Pak. Saya lahirnya di Sumatera Barat”

D : (seriously, si Bapak langsung girang) “oooh urang awak juo ma! Apak dari Solok. Adiak dima kampuang? ” [ooh ternyata kita sekampung. Bapak dari Solok. Adek kampungnya dimana?]

S : “Loh?” (heran-heran. Dialek bapaknya sama sekali bukan dialek Minang) “Awak di Bukittinggi Pak.”

D : “Hoo.. iyo bana urang awak ma yo.. tadi apak ragu, namonyo bantuak-bantuak urang Timur (hahahaa si Bapak mah), logatnyo lah Sunda-Sunda lo kan. Ndeh batamu rang sakampuang wak kironyo.. ” [Hoo.. wah ternyata beneran orang sekampung nih. Tadi Bapak ragu, nama adek mirip orang Timur, logatnya juga udah Sunda-Sunda gitu. Ya ampun ternyata ketemu sama orang sekampung..]

Begitulah chitchat awal kami. Yang sama-sama heran dengan dialek masing-masing. To be honest, entah karena sudah cukup lama di rantau atau karena lebih adaptif, cara berbahasa kami (saya dan si Bapak Driver sepakat) langsung menyesuaikan tempat kami berada. Tidak melupakan bahasa daerah, hanya menambah wawasan berbahasa. And somehow I’m proud of that. Bukan cuma saya yang begini, tapi juga perantau-perantau lainnya. Dan as you all know, orang Minang “doyan” merantau…

Perbincangan kami lebih banyak membahas tentang pergelutan kehidupan perantau. Pastinya beliau lebih berpengalaman, apalah saya yang baru hitungan belasan tahun. Beliau pun mengakui, serindu-rindunya dengan kampung, paling lama hanya bisa menikmati 2 minggu disana. Kadang belum puas, masih banyak memori lama yang belum dijemput, masih banyak spot dan habit lama yang belum dikenalkan kepada anak-anak. Tapi tanggung jawab tidak bisa dikesampingkan hanya karena ingin menuruti ego.

Dan betul, perantau tidak pernah puas untuk menikmati tanah asal. Tapi harus bisa menahan, supaya perjalanan tidak selalu di tempat, tapi bergerak. Ke depan, bukan ke belakang. Percayalah, kami para perantau adalah orang-orang yang akrab dengan rindu ๐Ÿ™‚

Salam,

Saya

29082017. Bersama rindu dan perjalanan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: