Pencipta Senyum Pagi Itu

Udara dingin di pagi hari membuat selimut menjadi pilihan yang lebih baik untuk berteman. Tapi ada tanggungan yang membuatku harus menolak pertemanan selimut di pagi berkabut itu. Ada kewajiban yang harus dipenuhi, dengan tampilan kata-kata baku dan analisis di dalamnya. Pagi itu harus segera kuselesaikan, agar lepas pula tanggung jawabku untuk bagian ini, dan puas pula diriku menikmati akhir pekan nanti.
Kala itu, aku sedang di tanah kelahiran. Sebuah kota di dataran tinggi, yang tidak jarang menghadirkan udara pagi yang smoky dan syahdu. Dedaunan dan bunga-bungaan disana pun puas menyeruput embun alami. Dulu ketika masih sekolah, sering aku berangkat dengan bibir yang membiru kedinginan, sampai sinar matahari mulai mampir menghangatkan bumi di bagian sana. Yang pasti, pagi hari selalu menjadi indah, sejuk dan mempesona.
Karena tanggungan tadi, aku harus berjuang mendapatkan sinyal yang lancar untuk sebuah email, bahkan hingga harus duduk bersila di teras depan. Ketikan dan nada lagu dari laptop memecahkan kesunyian di jalan depan rumah. Sesekali ada langkah, tapi tak menyadari ada sosokku di balik bougenville yang perkasa. Masih pagi, maka aku juga harus memilih playlist yang indah, sejuk dan mempesona. Banda Neira, idaman bagi ketenangan jiwaku, dimainkan dengan rindu.
Sampai akhirnya, salah satu lagunya menjadi latar belakang suara sebuah momen epik. Di depan rumahku ada sebuah keluarga kecil yang banyak. Dengan empat orang anak, suami isteri tersebut menjadi teamwork yang kompak. Dua orang sudah bersekolah, sedang senang-senangnya dengan teman sebaya dan riuh tawa. Satu orang balita, anak laki-laki tampan menggemaskan dan murah sapa. Dan satu lainnya masih bayi, masih butuh perhatian dan pelukan dari orang tua. Mereka tumbuh dengan perkembangan spiritual yang baik pula, menjadikan sosok rumah terlihat menenangkan.
Pagi itu dua orang kakak sudah berseragam, siap diantarkan sang ayah hingga ke sekolah. Mendengar bunyi sepeda motor dinyalakan, si adik balita langsung terbangun dan berlari ke pintu depan rumah. Anak balita pada umumnya akan merengek-rengek ingin ikut pergi, berbeda dengan si bocah ini. Ia bergegas ingin menyaksikan kakak-kakaknya berangkat sekolah ditemani oleh ayah yang baginya adalah seorang superhero. Padahal hanya pergi barang sebentar, ia tidak ingin melewatkan ucapan salam dan cium tangan pada ayah dan kakak-kakaknya. Duh, nak. Si tampan bermuka bantal, yang masih belum sempat mencuci wajah tidurnya, semakin lucu melelehkan hati calon-calon ibu.

1501647925145

Kakak-kakaknya sudah siaga di depan pagar. Si tampan hanya melihat dari teras rumah, melambai-lambaikan tangan melepas kakaknya pergi menuntut ilmu. Sang ayah pun tak ingin membuatnya kecewa, maka klakson motor pun dibunyikan untuknya. “Daah, Nak.” Begitu saja, ia sudah bahagia. Ditebarkannya senyum kecil berhiaskan gigi susu. Berharap ayah mendengarkan semangatnya yang antusias, si tampan membalasnya dengan lambaian tangan yang kencang, “Dadah, ayah.. Dadah, ayah…Dadah, ayah.. ” sampai suara motor sang ayah tidak lagi terdengar dari rumah.
Begitu saja, sudah membuat senyumku tidak menghilang beberapa saat. Sumringah menyaksikan momen itu di depan mata. Si tampan sudah menciptakan senyum seorang aku pagi itu. Sekelebat mengusik konsentrasiku memang. Kata-kata yang kuketik dari keyboard laptop menjadi berantakan, tapi ini penting untuk disaksikan, pikirku. Ditambah lagi dengan buaian Sampai Jadi Debu, sukses menjadikan momen itu sebagai pengingat rindu yang syahdu. Terbayang, suatu masa akan muncul pula senyum seperti ini tercipta oleh malaikat-malaikat kecilku, setiap pagiku, bersama penuntunku ke jannah-Mu. 🙂

 

 

Salam,

Saya

01082017. Looking back to the days at hometown ❤

Advertisements

2 thoughts on “Pencipta Senyum Pagi Itu

  1. Ah! Well said.
    I can picture this in my mind.. so heartwarming.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: