Monthly Archives: August 2017

Perantau Berbicara

Tumbuh dan berkembang di tanah rantau adalah pilihan masing-masing orang, termasuk saya. Ada banyak alasan orang memilih tempat selain kampung halamannya, dan ada banyak pula masanya. Ada yang mengikuti keluarganya, ada yang ingin kuliah di kampus idamannya, ada yang mendapatkan penempatan kerja di kota lain, ada yang sengaja datang ke kota lain mencari pekerjaan, ada yang mengikuti suami/isterinya agar tidak lelah oleh efek LDR. Masih banyak alasan lain, dengan waktu-waktu yang berbeda.

Seketika menapakkan kaki di rantau untuk waktu yang lama, skill adaptasi harus dikembangkan. Kita akan berjumpa dengan gaya hidup orang sekitar yang berbeda, dialek bahasa yang tidak sama, bahkan nasi dan lauk yang rasanya sama jauhnya dengan jarak ke rumah.

Tidak hanya itu, bahkan untuk kebiasaan masyarakat sekitar pun harus lebih mengamati. Cara warga setempat mempersiapkan pernikahan, menyambut Maulid Nabi, bahkan cara berdiskusi dalam satu kelompok (ada yang langsung to the point, ada yang harus izin ke orang yang lebih tua dulu, ada yang harus menunggu acc orang yang lebih expert dulu, dll).

Percayalah, kami para perantau adalah orang-orang yang akrab dengan rindu 🙂

Berjumpa orang yang berdaerah asal pun jarang dialami. Jika pada masa yang tidak diperkirakan dipertemukan, giranglah hati menyambutnya. Apalagi jika di dalam satu tim ketja, satu organisasi, atau satu area tempat tinggal. Bahasa universal spontan berubah menjadi bahasa daerah. Saling mengenal daerah asal, lebih heboh lagi kalau asal daerahnya sama. Tua-muda, laki-laki-perempuan, tidak jadi masalah untuk sebuah kebahagiaan kecil seperti itu. Gelembung-gelembung rindu pada rumah menari-nari di sekitar kita.

Pun tidak berjumpa untuk jangka panjang, paling tidak terlepas sedikit ikatan rindu. Pernah suatu kali saya menumpang di salah satu mobil jasa transportasi online. Saya tergolong penumpang yang “manut” driver, jika ia tak banyak merespon, saya tidak akan melanjutkan. Mungkin beliau tipe driver yang konsentrasi ketika menyetir mobil. Tetapi ada juga yang lebih senang diajak ngobrol supaya tidak cepat bosan dan mengantuk.

Kebetulan bapak yang satu ini lebih komunikatif. Ketika melewati sebuah rumah berbentuk rumah gadang (rumah adat khas Minang) yang menarik perhatian, beliau menanyakan saya,

Driver : “Adek tau ga ini rumahnya siapa? Rumahnya bagus banget. Adem liatnya.”

Saya : “Wah, kurang tau, Pak. Iya saya juga sering jalan lewat sini, enak diliatin. Ada rumah gadangnya.”

D : (mikir) “Loh adek aslinya mana? ”

S : (ughh.. that question. The hardest question ever in my life) Mmm saya tinggalnya di Jogja Pak.”

D : “Asli Jogja? Orang tua orang sana?”

S : “Oh engga Pak. Saya lahirnya di Sumatera Barat”

D : (seriously, si Bapak langsung girang) “oooh urang awak juo ma! Apak dari Solok. Adiak dima kampuang? ” [ooh ternyata kita sekampung. Bapak dari Solok. Adek kampungnya dimana?]

S : “Loh?” (heran-heran. Dialek bapaknya sama sekali bukan dialek Minang) “Awak di Bukittinggi Pak.”

D : “Hoo.. iyo bana urang awak ma yo.. tadi apak ragu, namonyo bantuak-bantuak urang Timur (hahahaa si Bapak mah), logatnyo lah Sunda-Sunda lo kan. Ndeh batamu rang sakampuang wak kironyo.. ” [Hoo.. wah ternyata beneran orang sekampung nih. Tadi Bapak ragu, nama adek mirip orang Timur, logatnya juga udah Sunda-Sunda gitu. Ya ampun ternyata ketemu sama orang sekampung..]

Begitulah chitchat awal kami. Yang sama-sama heran dengan dialek masing-masing. To be honest, entah karena sudah cukup lama di rantau atau karena lebih adaptif, cara berbahasa kami (saya dan si Bapak Driver sepakat) langsung menyesuaikan tempat kami berada. Tidak melupakan bahasa daerah, hanya menambah wawasan berbahasa. And somehow I’m proud of that. Bukan cuma saya yang begini, tapi juga perantau-perantau lainnya. Dan as you all know, orang Minang “doyan” merantau…

Perbincangan kami lebih banyak membahas tentang pergelutan kehidupan perantau. Pastinya beliau lebih berpengalaman, apalah saya yang baru hitungan belasan tahun. Beliau pun mengakui, serindu-rindunya dengan kampung, paling lama hanya bisa menikmati 2 minggu disana. Kadang belum puas, masih banyak memori lama yang belum dijemput, masih banyak spot dan habit lama yang belum dikenalkan kepada anak-anak. Tapi tanggung jawab tidak bisa dikesampingkan hanya karena ingin menuruti ego.

Dan betul, perantau tidak pernah puas untuk menikmati tanah asal. Tapi harus bisa menahan, supaya perjalanan tidak selalu di tempat, tapi bergerak. Ke depan, bukan ke belakang. Percayalah, kami para perantau adalah orang-orang yang akrab dengan rindu 🙂

Salam,

Saya

29082017. Bersama rindu dan perjalanan.

Advertisements

Meja Runding

Rasanya akan sangat damai memiliki sebuah ruangan lepas di belakang rumah, bertanamkan pohon rindang menyejukkan. Bersanding pula dua kursi taman dari kayu pohon kelapa. Warnanya coklat tua, serasi dengan warna tembok yang divisualisasikan dengan warna alam. Ah amboi!


Terhidang di antaranya dua cangkir kopi di atas meja berbahan serupa dengan sepasang kursi tadi. Tak payah membentuk kayu cantik itu menjadi meja ini, kupikir. Ia hanya berbentuk persegi panjang, berkaki empat, dan sedikit celah di bawah meja tempat buku, majalah, dan buku gambar anak-anak diletakkan agar tak basah jika kopi tumpah ruah. Tidak seperti kursi, meja kotak itu telah ada lebih dulu, didesain khusus oleh ayah sang perempuan pada masa belum ada tuan yang datang menjemputnya.

Meja unik yang berdiri semampai di balkon belakang rumah itu akan menjadi saksi berbagai warna yang hadir di dalam keluarga itu nanti, seperti juga di hari-hari kemarin. Bahkan ia menyaksikan sebuah kursi panjang tambahan hadir di depannya, karena anggota keluarga yang bertambah seiring waktu dan butuh lebih banyak ruang untuk berguru. Jika ia seorang anak bumi, akan berbesar hati ia menyaksikan semakin banyak kegiatan yang tercipta di sudut ruang favorit keluarga itu. Apalagi atas dasar bahagia.

Jauh sebelum keluarga ini berisik dengan riuh tawa yang renyah dari para bocah, meja itu telah difungsikan untuk banyak momen. Ketika tamu keluarga datang, meja ini terisi penuh dengan hidangan lezat buatan tangan para ibu. Ketika dilanda suatu masalah, sang ayah memberitahukan putusan, di meja ini. Ketika si anak hendak merundingkan rencananya melanjutkan pendidikan, ayah dan ibu mendengarkan sambil menyimak gambaran masa depan anaknya di atas meja ini. Bahkan ketika akhirnya seorang tuan pemberani yang telah memenuhi perbekalannya datang ke rumah untuk mencalonkan diri menjadi pemimpin hidup si gadis, pun dirundingkan di meja ini, mulai dari kata hati si anak hingga rincian daftar undangan resepsi. Banyak cerita hidup di atas meja ini, runding ini-itu agar menyatu.

Di rumah baru, sang meja kembali memainkan perannya. Kali ini dengan dua kursi tunggal dan satu kursi panjang, bersama keluarga muda. Suka duka hadir disini, menciptakan warna khas keluarga inti. Mulai dari memberanikan diri menyatakan perasaan cinta dan tidak suka, hingga mengalah ketika ego terlalu keras. Pasangan muda akan punya rasa egois yang masih segar, tuntutan perfeksionisme yang tinggi, belum lagi tuntutan kewajiban sebagai suami/isteri dan orang tua. Disanalah indahnya berkomunikasi. Saling bercerita tentang kegundahan. Meluruhkan kerasnya hati dan mencairkan pikiran yang buntu. Dengan suasana damai di balkon belakang rumah ini, semua ion-ion negatif itu dapat tereduksi dan kembali merekah senyum.

Saat anggota tim keluarga bertambah pun, spot rumah di bagian itu masih menjadi andalan. Tangis si bayi seketika hilang ketika ia hening dan mendengar gesekan-gesekan daun disana. Dibuai-buai di kursi belakang, ditontonkan mainan lucu di meja sana. Keluarga yang mampir pun dapat menyaksikan si bocah belajar berjalan di rumput taman sambil menyantap cemilan ubi goreng dan teh hangat. Yang tua memberi saran tentang cara merawat anak pada si ibu muda, juga cara merawat tanaman dan perabotan pada si ayah muda. Jika saja silaturahmi itu sirna, tak ada komunikasi. Apalagi solusi.


Sekali lagi, komunikasi, menjadi keindahan dari sebuah permasalahan. Jika menjanggal, tanyakan. Jika tak senang, katakan.

Walau tak semua tanya datang beserta jawab,

dan tak semua harap terpenuhi.

Ketika bicara juga sesulit diam,

utarakan, utarakan, utarakan...

(Banda Neira-Utarakan)

Selamat berunding!

Created on Tue, 22082017.di balik awan angan dan harapan.

Pencipta Senyum Pagi Itu

Udara dingin di pagi hari membuat selimut menjadi pilihan yang lebih baik untuk berteman. Tapi ada tanggungan yang membuatku harus menolak pertemanan selimut di pagi berkabut itu. Ada kewajiban yang harus dipenuhi, dengan tampilan kata-kata baku dan analisis di dalamnya. Pagi itu harus segera kuselesaikan, agar lepas pula tanggung jawabku untuk bagian ini, dan puas pula diriku menikmati akhir pekan nanti.
Kala itu, aku sedang di tanah kelahiran. Sebuah kota di dataran tinggi, yang tidak jarang menghadirkan udara pagi yang smoky dan syahdu. Dedaunan dan bunga-bungaan disana pun puas menyeruput embun alami. Dulu ketika masih sekolah, sering aku berangkat dengan bibir yang membiru kedinginan, sampai sinar matahari mulai mampir menghangatkan bumi di bagian sana. Yang pasti, pagi hari selalu menjadi indah, sejuk dan mempesona.
Karena tanggungan tadi, aku harus berjuang mendapatkan sinyal yang lancar untuk sebuah email, bahkan hingga harus duduk bersila di teras depan. Ketikan dan nada lagu dari laptop memecahkan kesunyian di jalan depan rumah. Sesekali ada langkah, tapi tak menyadari ada sosokku di balik bougenville yang perkasa. Masih pagi, maka aku juga harus memilih playlist yang indah, sejuk dan mempesona. Banda Neira, idaman bagi ketenangan jiwaku, dimainkan dengan rindu.
Sampai akhirnya, salah satu lagunya menjadi latar belakang suara sebuah momen epik. Di depan rumahku ada sebuah keluarga kecil yang banyak. Dengan empat orang anak, suami isteri tersebut menjadi teamwork yang kompak. Dua orang sudah bersekolah, sedang senang-senangnya dengan teman sebaya dan riuh tawa. Satu orang balita, anak laki-laki tampan menggemaskan dan murah sapa. Dan satu lainnya masih bayi, masih butuh perhatian dan pelukan dari orang tua. Mereka tumbuh dengan perkembangan spiritual yang baik pula, menjadikan sosok rumah terlihat menenangkan.
Pagi itu dua orang kakak sudah berseragam, siap diantarkan sang ayah hingga ke sekolah. Mendengar bunyi sepeda motor dinyalakan, si adik balita langsung terbangun dan berlari ke pintu depan rumah. Anak balita pada umumnya akan merengek-rengek ingin ikut pergi, berbeda dengan si bocah ini. Ia bergegas ingin menyaksikan kakak-kakaknya berangkat sekolah ditemani oleh ayah yang baginya adalah seorang superhero. Padahal hanya pergi barang sebentar, ia tidak ingin melewatkan ucapan salam dan cium tangan pada ayah dan kakak-kakaknya. Duh, nak. Si tampan bermuka bantal, yang masih belum sempat mencuci wajah tidurnya, semakin lucu melelehkan hati calon-calon ibu.

1501647925145

Kakak-kakaknya sudah siaga di depan pagar. Si tampan hanya melihat dari teras rumah, melambai-lambaikan tangan melepas kakaknya pergi menuntut ilmu. Sang ayah pun tak ingin membuatnya kecewa, maka klakson motor pun dibunyikan untuknya. “Daah, Nak.” Begitu saja, ia sudah bahagia. Ditebarkannya senyum kecil berhiaskan gigi susu. Berharap ayah mendengarkan semangatnya yang antusias, si tampan membalasnya dengan lambaian tangan yang kencang, “Dadah, ayah.. Dadah, ayah…Dadah, ayah.. ” sampai suara motor sang ayah tidak lagi terdengar dari rumah.
Begitu saja, sudah membuat senyumku tidak menghilang beberapa saat. Sumringah menyaksikan momen itu di depan mata. Si tampan sudah menciptakan senyum seorang aku pagi itu. Sekelebat mengusik konsentrasiku memang. Kata-kata yang kuketik dari keyboard laptop menjadi berantakan, tapi ini penting untuk disaksikan, pikirku. Ditambah lagi dengan buaian Sampai Jadi Debu, sukses menjadikan momen itu sebagai pengingat rindu yang syahdu. Terbayang, suatu masa akan muncul pula senyum seperti ini tercipta oleh malaikat-malaikat kecilku, setiap pagiku, bersama penuntunku ke jannah-Mu. 🙂

 

 

Salam,

Saya

01082017. Looking back to the days at hometown ❤