Senjaku, Tak Pernah Layu

Seminggu tak berjumpa dengan rutinitas rutin (baca : menulis), rindu. Terhalangi oleh perjalanan, penyesuaian rutinitas harian, dan penugasan kerja yang harus dipenuhi via jarak jauh. Ada banyak cerita, akan segera kuceritakan, menebus absen beberapa lembar yang lalu. Tapi sekarang sedang ingin flashback.

 

Kembali merasakan malam Ramadhan di kamar yang sama seperti 11 tahun yang lalu, siapa yang tak rindu? Begitu membuka pintu kamar, semua memori yang tertampung disini seperti merangkulku dengan hangat, menghilangkan rasa dingin di kaki. Memori menegakkan shalat di kala adzan yang terdengar dari masjid yang kejauhannya hanya berjarak dua rumah dari rumah. Memori ketika akan tidur berpamitan kepada ayah ibu, yang tidak pernah absen menorehkan ciuman ke pipi beliau berdua. Memori yang begitu menyenangkan berada di depan meja belajar, bahkan ketika liburan usai tidak ingin lepas dari apapun yang ada disana. Memori ketika tidur bersama nenek, tangan beliau selalu berada di sebelah kepala mungilku, seringkali kugenggam hingga terlelap pulas. Bahkan, memori ketika kesal dengan mbak yang mengambil buku tulis baru hadiah dari sekolah, dan menjadi momen yang paling teringat ketika itu ayah marah yang tidak ingin sifat pelit itu menggerogoti anak gadisnya =”D

 

Tidak pernah tidak bersyukur dengan semua yang dijalani hingga detik ini. Dengan perjalanan panjang sejauh itu, ketika ditarik ke titik di masa itu, terasa begitu cepat. Tiba2 sekarang usiaku sudah sebanyak ini, kota yang sudah kudatangi sendiri sudah sebanyak sekarang ini, padahal dulu mana pernah menyangka bisa hidup mandiri jauh dari ibu dan ayah. Tidak menyangka sudah banyak orang yang aku temui, banyak kasih yang aku dapatkan, banyak pula rindu yang aku titipkan. Tidak menyangka sudah sebanyak ini ilmu yang aku tampung walaupun masih banyak yang belum aku tahu dan ingin aku dapatkan. Tidak sekalipun memungkiri rasa syukurku, sepahit dan sesakit apapun yang pernah dialami, masih lebih banyak manis yang kupetik ❤

1497979774488

Dan sekarang, baru mulai bisa melihat dari kacamata dewasa, mungkin seperti yang ayah dan ibu gunakan saat itu. “Oh ternyata ini maksudnya, ayah ngajarin ini, ibu ngajarin itu.”

Berpikir dan berharap ke depannya, semoga hal-hal bijak seperti ini bisa dirasakan generasi selanjutnya, sebelum terlambat, sebelum ombak membuainya ke tengah dan tenggelam ke dalam lautan kelalaian =”|

 

 

Salam,

Saya

20062017, in my own bedroom with blanket and jacket.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Advertisements
%d bloggers like this: