Monthly Archives: June 2017

Senjaku, Tak Pernah Layu

Seminggu tak berjumpa dengan rutinitas rutin (baca : menulis), rindu. Terhalangi oleh perjalanan, penyesuaian rutinitas harian, dan penugasan kerja yang harus dipenuhi via jarak jauh. Ada banyak cerita, akan segera kuceritakan, menebus absen beberapa lembar yang lalu. Tapi sekarang sedang ingin flashback.

 

Kembali merasakan malam Ramadhan di kamar yang sama seperti 11 tahun yang lalu, siapa yang tak rindu? Begitu membuka pintu kamar, semua memori yang tertampung disini seperti merangkulku dengan hangat, menghilangkan rasa dingin di kaki. Memori menegakkan shalat di kala adzan yang terdengar dari masjid yang kejauhannya hanya berjarak dua rumah dari rumah. Memori ketika akan tidur berpamitan kepada ayah ibu, yang tidak pernah absen menorehkan ciuman ke pipi beliau berdua. Memori yang begitu menyenangkan berada di depan meja belajar, bahkan ketika liburan usai tidak ingin lepas dari apapun yang ada disana. Memori ketika tidur bersama nenek, tangan beliau selalu berada di sebelah kepala mungilku, seringkali kugenggam hingga terlelap pulas. Bahkan, memori ketika kesal dengan mbak yang mengambil buku tulis baru hadiah dari sekolah, dan menjadi momen yang paling teringat ketika itu ayah marah yang tidak ingin sifat pelit itu menggerogoti anak gadisnya =”D

 

Tidak pernah tidak bersyukur dengan semua yang dijalani hingga detik ini. Dengan perjalanan panjang sejauh itu, ketika ditarik ke titik di masa itu, terasa begitu cepat. Tiba2 sekarang usiaku sudah sebanyak ini, kota yang sudah kudatangi sendiri sudah sebanyak sekarang ini, padahal dulu mana pernah menyangka bisa hidup mandiri jauh dari ibu dan ayah. Tidak menyangka sudah banyak orang yang aku temui, banyak kasih yang aku dapatkan, banyak pula rindu yang aku titipkan. Tidak menyangka sudah sebanyak ini ilmu yang aku tampung walaupun masih banyak yang belum aku tahu dan ingin aku dapatkan. Tidak sekalipun memungkiri rasa syukurku, sepahit dan sesakit apapun yang pernah dialami, masih lebih banyak manis yang kupetik ❀

1497979774488

Dan sekarang, baru mulai bisa melihat dari kacamata dewasa, mungkin seperti yang ayah dan ibu gunakan saat itu. “Oh ternyata ini maksudnya, ayah ngajarin ini, ibu ngajarin itu.”

Berpikir dan berharap ke depannya, semoga hal-hal bijak seperti ini bisa dirasakan generasi selanjutnya, sebelum terlambat, sebelum ombak membuainya ke tengah dan tenggelam ke dalam lautan kelalaian =”|

 

 

Salam,

Saya

20062017, in my own bedroom with blanket and jacket.

Advertisements

Aku dan Baby

[R11th]

Sebenarnya topik yang disiapkan bukan ini, tapi mumpung sekarang (pas lagi nulis ini) masih merasakan euforia-nya, yaudah sharing ini dulu aja. Lumayan buat belajar, hihii..

 

It’s happened just a few hours ago, di saat momen shalat berjama’ah sedang berlangsung di pelataran perumahan. Bulan Ramadhan selalu punya hal yang beda daripada bulan-bulan lainnya, ada kebiasaan yang dijalankan sebulan penuh, tidak seperti bulan-bulan lainnya. Berpuasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari, memperbanyak tadarus, sahur dan berbuka bersama keluarga dan kerabat, hingga shalat malam (tarwih) berjama’ah.

Sebuah hadist menyebutkan bahwa seorang perempuan disunahkan shalat di rumah daripada di masjid. Tetapi saya juga mempelajari hadist lainnya, (maaf saya lupa bunyinya) yang kurang lebih menyatakan bahwa jika shalat di rumah lebih banyak menyebabkan shalatnya tertunda (malah kemudian mengerjakan hal lainnya) dan shalat di masjid lebih menjadikannya shalat dengan lebih baik, dibolehkan. Wallahua’lam #CMIIW

Saya, yang ternyata merasakan hal itu (sering tertunda shalatnya kalau di rumah daripada di masjid), pun melangkahkan kaki ke tempat shalat berjama’ah. Fyi, di shaf perempuan saya anak muda tertua di perumahan πŸ˜‚ Yang lainnya ibu-ibu, anak-anak sekolahan sampai dengan balita. Anak muda lainnya hanya tetangga seberang rumah saya, berjarak 2-3tahun lebih muda.

 

Dan shalat Isya pun dimulai ketika sudah mulai banyak warga perumahan memadati pelataran/balai. Tidak seperti biasanya, ada seorang baby gemassh berkeliaran dari ujung shaf ke ujung lainnya (sambil ngesot; bergaya seperti berjalan dengan papan yang berjalan jika tangan didayungkan ke lantai :D). Awalnya dia aktif sekali mondar-mandir, dan ketika ruku’ raka’at pertama, HOOP!, si baby berhenti di sebuah sajadah kain rada empuk dan cukup cozy untuk diduduki : sajadahku 😐

Orang yang sedang shalat adalah orang yang sadar, kan? Tidak mungkin kita tidak melihat apa yang terjadi di depan mata kita (kecuali kalau kejadiannya di samping kiri/kanan, ya ga sah dong shalatnya ngelirik-lirik). Lah ini tepat di tempat sujud kita πŸ˜€ Saya cuma bisa merespon dengan senyum, sambil berdoa ketika sedang membaca bacaan shalat, semoga si debay beranjak ketika saya sujud nanti.

Sayangnya tidak, hahahaa… dia masih aja ngetem di depan. Karena tidak mungkin menggusurnya atau malah tidak jadi sujud, saya beranjak sedikit ke kiri agar bisa melakukan gerakan sujud. Dan si baby tetap anteng tak bergerak. Ya Allah deeeek πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

 

Bangkit untuk raka’at kedua, baby pun ikut bangkit. Saya, dengan konsentrasi yang sedikit terusik, masih tetap merekah senyum. Dia kembali ngesot kesana-sini, dan lagi-lagi ngetem di sajadah saya ketika akan sujud. Begitu seterusnya hingga raka’at terakhir.

It’s not annoying at all. Saya justru merasa spesial karena dipilih dia, dan Allah mungkin sedang ngasi ujian dadakan juga tadi ke saya seberapa besar komitmen saya menegakkan shalat. Mungkin begitu. Wallahua’lam ^^

Selesai salam, saya tidak mampu lagi membendung kegemesan yang membuncah. Pipi bakpaonya langsung saya banjiri ciuman, dan dia masih tetap diam disana, di sajadah biru cozy-ku ❀


Moral values :

Yang pertama kali terpikirkan oleh saya tadi adalah : “Besok kalo punya baby sendiri kayak gini kali ya, rasanya shalat tapi si baby masih mau gelendotan dan ngajak main ibunya.”

Someday, saya, dan kamu, para perempuan, akan merasakan momen ini kembali, mungkin akan lebih sering, mungkin akan setiap hari. Pertahankan konsentrasimu selama shalat walaupun babymu begitu menggoda πŸ˜„ Jangan berikan respon negatif (marah, kesal, dll) karena ia mengganggu shalatmu. Respon positif dan ajakan yang lebih persuasif akan lebih ‘menyehatkan’ dan diterima dengan baik olehnya. All things that become minus (negative) is never gonna be good πŸ™‚

Dan betapa menyenangkannya ketika kita memperkenalkan gerakan shalat, mendengarkan bacaan shalat dan ayat Al-Qur’an, dengan penuh cinta ❀

 

 

Salam,

Saya

06052017 @ Jogja, Perumahan Giwang Pratama

Advertisements