Melodi Perekam Memori, Peredam Emosi

Sore itu langit mengalihkan duniaku. Terlalu indah untuk diacuhkan, maka kuberikan sedikit waktuku menikmati awan berlatar langit jingga. Diam di tempat, memandang ke arah atas sekitar 45 derajat jarak pandangku. Bersama segelas cappucino atau minuman berasa yang hangat, lagu indie atau semacam alunan akustik, dan sebuah buku penyemangat : pasti perfecto, pikirku. Sayangnya nada-nada sekitar sedang hiruk-pikuk.

Bersama segelas cappucino atau minuman berasa yang hangat, lagu indie atau semacam alunan akustik, dan sebuah buku penyemangat : pasti perfecto, pikirku.

“Ting..tong..ting..tong,” bunyi bel stasiun penanda kereta datang dan pergi mengusik momen indahku. Ah ya, tiketku! Bergegas memeriksa kode pemesanan tiket dan menyiapkan kartu identitas, aku mengarahkan langkah ke sekitar loket. Tapi yang dicari tidak bersua. Ternyata mesin pencetak tiket mandiri ada di seberang sana. Stasiun itu tidak cukup besar, tapi cukup banyak orang yang naik-turun disana. Saat itu sedang akhir pekan yang agak panjang karena tanggal merah di hari Kamis, sekaligus akan menyambut hari pertama ramadhan, tak heran banyak perantau yang rindu untuk pulang. Termasuk aku.

1496162669359

Menginjakkan kaki ke dalam stasiun, masih 1,5 jam sebelum keberangkatan kereta. Masih banyak kursi tunggu belum bertuan, segera kupilih yang sudut pandangnya menenangkan di depannya. Paling tidak masih sempat aku nikmati teh tarik yang tadi kusedu di mini market bersama sepotong roti, pengganti makan siang yang aku lewatkan karena harus segera mencapai stasiun sore itu. Di depanku langit senja yang rupawan masih terpampang, kali ini bersanding dengan rangkaian gerbong kereta di peron. Aku ingin segera merealisasikan momen enak yang tadi aku bayangkan : minuman hangat ✔, buku ✔, hanya kurang lagu. Headset segera dipasangkan ke balik jilbab. Kubuka handphoneku agar segera memilih lagu yang bisa menemani, oh tidak! Tanpa komando atau pamitan ia langsung mati di tempat… Momen indah kembali terlewati, seperti patah hati karena tidak ditemani 💔

Momen indah kembali terlewati, seperti patah hati karena tidak ditemani

Hidanganku tidak ternikmati dengan syahdu, dan kepala mulai sakit karena suara bising dan panganan yang belum tersuap. Yang harus ditemukan sekarang adalah charging area. Tapi akan lebih aman jika aku mengisi ulang baterai handphone di dalam kereta, itupun jika kereta sudah tiba. Beruntungnya, ia telah di depan mata. Destinasi langkahku semakin mantap, ingin segera meletakkan tas ranselku, menyeruput teh dan mengisi ulang energi untukku dan untuk handphoneku.

Ternyata kursiku berlawanan arah dengan jalan kereta. Ah sudahlah, protes pun aku percuma. Yang penting aku tiba tepat pada waktunya, selamat dan sehat sampai disana. Keinginanku tak lagi muluk-muluk setelah menghadapi hal yang lebih bapuk daripada sekadar kursi yang melawan arah. Jika boleh mengambil istilah dari seorang temanku, kursi itu “berjalan ke depan menghadap ke masa lalu”.

Sambil menikmati makanan dan minuman, tiba-tiba ada suara musik dimainkan. Kukira pihak kereta api memutar lagu untuk menghibur penumpang sebelum kereta berangkat. Ternyata bukan, setelah kuselidiki sumber suaranya. Ia datang dari sisi sebelah arah belakangku, di kursi paling ujung dekat pintu pembatas gerbong. Seorang laki-laki berusia senja memutarkan lagu keroncong. Aaah, teduh luar biasa! Diriku yang tadi kemrungsung sana-sini, yang juga mengidamkan lagu yang syahdu menemani, diberikan olehnya. Seakan ia tahu yang aku butuhkan, walaupun aku yakin ia tidak ada niatan semacam itu.

Aku ingat tadi beliau sedang menelpon ketika aku masuk. Sepertinya menelpon isterinya, yang meminta dibelikan oleh-oleh sebelum tiba di stasiun. Volume suara musiknya lumayan keras, aku yakin penumpang di ujung lainnya bisa mendengarkannya. Biasanya, orang-orang akan risih dengan suara musik orang lain, apalagi dengan volume keras. Tapi beliau tidak. Antara tingkat toleransi penumpang di gerbongku yang sangat tinggi, atau memang jenis musik ini diterima dan dinikmati setiap orang. Aku tak kenal dengan lagu pertama, tapi aku bisa menikmatinya. Menyeruput teh tarik hangat kemudian memejamkan mata…. subhanallah 🙂

Aku tak kenal dengan lagu pertama, tapi aku bisa menikmatinya. Menyeruput teh tarik hangat kemudian memejamkan mata…. subhanallah 🙂

Terbayarkan sudah, kebutuhan sepenggal jiwaku yang sedang haus akan melodi teduh saat itu. Benar-benar terbayar. Rangkaian lagu selanjutnya mulai aku kenal, seperti Sepasang Mata Bola, Selendang Sutera, Jembatan Merah, dan lain-lain. Lawas tingkat dewa, tapi aku bahagia! Betapa musik bisa meredam emosi menjadi stabil kembali. Playlist itu kemudian berhenti, dan kembali dimainkan oleh sang kakek sekitar pukul 00.00. Aku tahu betul, karena aku sedang tidak bisa tidur, entah kenapa. Senyum sumringahku kembali terukir ketika mendengar alunan nada dari handphone si kakek, berhasil melarutkanku terlelap tanpa jiwa yang padam.

Dan seperti memoar lagu-lagu yang mengingatkan kita pada kenangan akan suatu kejadian atau seseorang, rangkaian melodi itu berhasil merekam memoriku saat itu, malam 1 Ramadhan di tahun itu. Terima kasih, Kek ❤

Salam,

Saya

30052017. @ jogja, kota tujuan dan peraduan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Advertisements
%d bloggers like this: