Konformitas / Conformity

Mengikut apa kata orang banyak, begitu makna awamnya. Apa sudah yakin itu benar?

Seringkali kita menemukan jati diri yang tidak mandiri. Bukan dalam hal melakukan aktivitas fisik, tapi ini lebih kita arahkan kepada aktivitas berpikir. Sudah mandirikah kita?

Pasti banyak permasalahan sosial yang terjadi di sekitar kita. Mulai dari hal besar seperti pemilihan calon pemimpin daerah atau penggugatan transportasi online yang marak belakangan ini, hingga hal kecil sekalipun seperti penetapan sistem arisan keluarga atau pembagian tugas kelompok belajar. Ada gambaran? Bagaimana cara kita menyikapinya?

Jika cara yang kamu pilih tidak berarah (masa bodo), you cannot be in this topic. Karena butuh arah sikap dalam bersikap. Jika pernah berada dalam posisi ini, sadarkah kita posisi kita sebagai seorang yang bagaimana? Ya bisa dikatakan sedikit banyak tumbuh rasa anti terhadap sosial, sementara manusia itu makhluk sosial. Jadi? Diibaratkan sebuah lingkaran sebagai kehidupan, kita yang bersikap anti sosial hanya berada di garis pembentuk lingkarannya saja. Makhluk sosial, yang tidak berusaha membentuk sosial itu nyata adanya.

Jika cara menyikapi permasalahan sosial itu dengan beropini, pastikan apakah opini kita sudah yang tepat? Secara subjektif pasti kita akan mengatakan itu benar menurut pemikiran kita, begitu juga pemikiran orang lain yang kadang sama dan kadang berbeda dengan kita.

Mengapa bisa terjadi perbedaan pendapat?
Manusia itu heterogen, bukan? Bahkan perbedaan itulah yang membuat hidup berwarna. Perbedaanlah yang menghidupkan suasana. Perbedaan pun dapat menambah pengetahuan, dari yang belum kita pahami menjadi paham.
Bagaimana agar menjadi satu suara?
Mendengarkan 1 suara saja?
Menampung semua suara lalu memutuskan hal yang tidak berhubungan sedikitpun?
Konformitas (mengikuti suara kelompok terbanyak)?

Saya belajar tentang konformitas, yang dulunya dipelajari lebih condong kepada behaviour para remaja. Mereka ikut-ikutan kegiatan kelompoknya supaya diterima di dalam kelompok, tidak dikucilkan, terlihat keren. Remaja yang sedang mencari jati diri akan berproses dalam membentuk diri yang konsisten, berprinsip dalam hidup.
Ironisnya, konformitas tidak sekadar ditemukan pada remaja. Akan banyak kita temukan dalam masyarakat, suara-suara yang melemah dan mengikuti suara yang lebih kuat karena kehilangan power, menghindari konflik/ancaman, mengubur dalam-dalam pemikiran awalnya yang sebenarnya lebih benar.

Perbedaan pendapat belum tentu 1 opini saja yang benar. Kebenaran banyak versinya. Dan perbedaan yang dipadupadankan akan terasa lebih kuat. Keputusan yang sama-sama menang (win-win solution) akan dapat diterima semua pihak, dibandingkan hanya menyetujui satu suara dan menenggelamkan yang lainnya.

Sounds abstract,yeah? But i wish you could get my point of view. Berharap generasi kini dan berikutnya memiliki pola pikir yang win-win solution untuk kebermanfaatan semua pihak. Aamiin.
Salam,
Saya.

140317. In the middle of my full-responsibility-week and analytical-thinking-session.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: