Menegur

Tidak ada manusia yang selalu benar. Tidak ada manusia yang tidak pernah tersesat. Beruntungnya kita menjadi makhluk sosial, maka tugas kitalah, yang mendapati kesalahan orang lain dan kebetulan tahu kebenaran, untuk menegurnya. Tidak memarahi, tapi menegur. Tidak mencela, tapi menegur. Tidak menyudutkan, tapi menegur.

Contoh sederhana. Saya membimbing adik sepupu saya berusia kesebelasan belajar untuk ujiannya besok. Tentang akhlak, yang salah satu subbabnya tentang syukur terhadap nikmat keluarga. Bentuk syukur itu beragam macamnya, yang ditujukan untuk keluarga. Segala perbuatan kita di rumah yang sifatnya untuk bersama, termasuk di dalamnya. Membersihkan rumah, memasak, dan sebagainya. Saya hanya memintanya untuk menyebutkan contoh-contoh bentuk syukur ‘yang pernah’ dilakukannya terhadap nikmat keluarga.

Tidak menyalahkan, tapi menegur

Dengan sadar diri (ini momen langka, biasanya dia lebih banyak denial nya dari pada acceptance), ia menyebutkan beberapa kegiatan. Tidak genap 10 jari. Padahal ia tahu masih banyak, tapi tidak disebutkan karena ia belum melakukannya. Awalnya air muka nya seperti malas dan takut membahas topik pelajaran ini. Takut nanti dimarahi, tidak berperilaku baik, diceramahi, dll. Saya tidak melakukannya. Pun sudah lelah untuk bersuara tinggi. Dari cara tadi saja dia sudah terdiam, dan sebuah bentuk self-introspection yang bagus untuk seorang anak-anak.

Contoh lainnya, saya dapatkan dari buku terjemahan “Pemimpin dalam Diri Anda” (Levine, Stuart R. dan Crom, Michael, A., 1996). Salah satu contoh pemimpinnya adalah seorang pengusaha sukses, dengan penghasilan yang besar dan jumlah karyawan yang tidak sedikit. Suatu saat ia melihat dua orang karyawan merokok di sebuah lokasi di perusahaan, padahal ada tanda Dilarang Merokok 🚭. Sebagai pimpinan teratas ia bisa saja memarahi mereka, atau bahkan dipecat. Tapi ia tidak, padahal mereka sudah ketakutan luar biasa! Ia menghampiri mereka berdua, mengajak bicara pembahasan yang ringan dan bersahabat, sama sekali bukan soal merokok di tempat terlarang. Sebelum pamit, ia menawarkan cerutu dan berkata sambil mengedipkan mata, “saya akan senang jika kalian merokok di luar.” Sederhana, dan damai.

Demikian. Menegur, yang tidak membuat suara meninggi atau detak jantung berdetak lebih kencang. Tidak menyalahkan, tapi menegur. πŸ™‚
Salam,

Saya.

Djogdja, 070317. Boy-sitter and single lady at home (for now)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: