Monthly Archives: March 2017

Angkasa Tanpa Pesan, Daratan Tanpa Beban

Air mukanya selalu bahagia
apalagi ketika diajak belajar berjalan.
Baru belajar saja ia sudah ingin berlari,
seakan tak sabar meraih mimpi,
mimpi yang dirangkai rapi

Ia pun selalu kagum dengan yang diatas,
layang-layang, pesawat, hujan, hingga cahaya yang membias.
Tak lelah lehernya mendongak
menyaksikan usaha yang terus didongkrak,
Bagaimana rupanya ketika berdiri tegak.

1490279278690

Siapa dia.
Siapa dia tanpa ada orang tua,
Apa dia tanpa ada hati dan pikiran,
Dimana dia tanpa arah dan tujuan.

Pada masanya,
Mereka tidak lagi memapahmu berjalan di daratan.
Dirimu harus melangkah sendiri.
Lihat sekelilingmu,
maka bebanmu akan menjadi ringan, bahkan hilang.

Pada masanya,
Mereka tidak lagi mengiringimu terbang di angkasa.
Kamu harus mengepakkannya sendiri.
Pelajari cara terbang yang baik,
maka banyak pesan untukmu hingga mencapai tujuan.

 

Terbersitkah di pikirmu,
Sudah sejauh mana langkah itu?
Langkah yang kamu janjikan akan baru,
Putih dan biru.
Apa hanya sekadar janji,
atau mungkin hanya menjadi memori.
Aku kadang suka berkaca.
Ragaku tetap sama,
tapi diriku seringkali berbeda.
Siapa aku, hingga begitu rupanya berjalan.
Siapa aku, hingga begitu ucapnya berikrar.
Siapa aku, hingga begitu caranya mewujudkan pesan.
Pada akhirnya, dirimu memang tidak sepenuhnya bisa sendiri.
Butuh dorongan untuk bergerak.
Butuh hembusan untuk menyegarkan.
Dan kebutuhan itu, akan selalu ada.
Ketika menetapkan hati pada siapa.
Yang pada masanya akan semakin nyata,
siapa dia. (:

 

Salam,

Saya

Djogdjakarta, 210317. Before take a nap after a long-nice trip with a long-nice story (world poem day)

Advertisements

Konformitas / Conformity

Mengikut apa kata orang banyak, begitu makna awamnya. Apa sudah yakin itu benar?

Seringkali kita menemukan jati diri yang tidak mandiri. Bukan dalam hal melakukan aktivitas fisik, tapi ini lebih kita arahkan kepada aktivitas berpikir. Sudah mandirikah kita?

Pasti banyak permasalahan sosial yang terjadi di sekitar kita. Mulai dari hal besar seperti pemilihan calon pemimpin daerah atau penggugatan transportasi online yang marak belakangan ini, hingga hal kecil sekalipun seperti penetapan sistem arisan keluarga atau pembagian tugas kelompok belajar. Ada gambaran? Bagaimana cara kita menyikapinya?

Jika cara yang kamu pilih tidak berarah (masa bodo), you cannot be in this topic. Karena butuh arah sikap dalam bersikap. Jika pernah berada dalam posisi ini, sadarkah kita posisi kita sebagai seorang yang bagaimana? Ya bisa dikatakan sedikit banyak tumbuh rasa anti terhadap sosial, sementara manusia itu makhluk sosial. Jadi? Diibaratkan sebuah lingkaran sebagai kehidupan, kita yang bersikap anti sosial hanya berada di garis pembentuk lingkarannya saja. Makhluk sosial, yang tidak berusaha membentuk sosial itu nyata adanya.

Jika cara menyikapi permasalahan sosial itu dengan beropini, pastikan apakah opini kita sudah yang tepat? Secara subjektif pasti kita akan mengatakan itu benar menurut pemikiran kita, begitu juga pemikiran orang lain yang kadang sama dan kadang berbeda dengan kita.

Mengapa bisa terjadi perbedaan pendapat?
Manusia itu heterogen, bukan? Bahkan perbedaan itulah yang membuat hidup berwarna. Perbedaanlah yang menghidupkan suasana. Perbedaan pun dapat menambah pengetahuan, dari yang belum kita pahami menjadi paham.
Bagaimana agar menjadi satu suara?
Mendengarkan 1 suara saja?
Menampung semua suara lalu memutuskan hal yang tidak berhubungan sedikitpun?
Konformitas (mengikuti suara kelompok terbanyak)?

Saya belajar tentang konformitas, yang dulunya dipelajari lebih condong kepada behaviour para remaja. Mereka ikut-ikutan kegiatan kelompoknya supaya diterima di dalam kelompok, tidak dikucilkan, terlihat keren. Remaja yang sedang mencari jati diri akan berproses dalam membentuk diri yang konsisten, berprinsip dalam hidup.
Ironisnya, konformitas tidak sekadar ditemukan pada remaja. Akan banyak kita temukan dalam masyarakat, suara-suara yang melemah dan mengikuti suara yang lebih kuat karena kehilangan power, menghindari konflik/ancaman, mengubur dalam-dalam pemikiran awalnya yang sebenarnya lebih benar.

Perbedaan pendapat belum tentu 1 opini saja yang benar. Kebenaran banyak versinya. Dan perbedaan yang dipadupadankan akan terasa lebih kuat. Keputusan yang sama-sama menang (win-win solution) akan dapat diterima semua pihak, dibandingkan hanya menyetujui satu suara dan menenggelamkan yang lainnya.

Sounds abstract,yeah? But i wish you could get my point of view. Berharap generasi kini dan berikutnya memiliki pola pikir yang win-win solution untuk kebermanfaatan semua pihak. Aamiin.
Salam,
Saya.

140317. In the middle of my full-responsibility-week and analytical-thinking-session.

Menegur

Tidak ada manusia yang selalu benar. Tidak ada manusia yang tidak pernah tersesat. Beruntungnya kita menjadi makhluk sosial, maka tugas kitalah, yang mendapati kesalahan orang lain dan kebetulan tahu kebenaran, untuk menegurnya. Tidak memarahi, tapi menegur. Tidak mencela, tapi menegur. Tidak menyudutkan, tapi menegur.

Contoh sederhana. Saya membimbing adik sepupu saya berusia kesebelasan belajar untuk ujiannya besok. Tentang akhlak, yang salah satu subbabnya tentang syukur terhadap nikmat keluarga. Bentuk syukur itu beragam macamnya, yang ditujukan untuk keluarga. Segala perbuatan kita di rumah yang sifatnya untuk bersama, termasuk di dalamnya. Membersihkan rumah, memasak, dan sebagainya. Saya hanya memintanya untuk menyebutkan contoh-contoh bentuk syukur ‘yang pernah’ dilakukannya terhadap nikmat keluarga.

Tidak menyalahkan, tapi menegur

Dengan sadar diri (ini momen langka, biasanya dia lebih banyak denial nya dari pada acceptance), ia menyebutkan beberapa kegiatan. Tidak genap 10 jari. Padahal ia tahu masih banyak, tapi tidak disebutkan karena ia belum melakukannya. Awalnya air muka nya seperti malas dan takut membahas topik pelajaran ini. Takut nanti dimarahi, tidak berperilaku baik, diceramahi, dll. Saya tidak melakukannya. Pun sudah lelah untuk bersuara tinggi. Dari cara tadi saja dia sudah terdiam, dan sebuah bentuk self-introspection yang bagus untuk seorang anak-anak.

Contoh lainnya, saya dapatkan dari buku terjemahan “Pemimpin dalam Diri Anda” (Levine, Stuart R. dan Crom, Michael, A., 1996). Salah satu contoh pemimpinnya adalah seorang pengusaha sukses, dengan penghasilan yang besar dan jumlah karyawan yang tidak sedikit. Suatu saat ia melihat dua orang karyawan merokok di sebuah lokasi di perusahaan, padahal ada tanda Dilarang Merokok 🚭. Sebagai pimpinan teratas ia bisa saja memarahi mereka, atau bahkan dipecat. Tapi ia tidak, padahal mereka sudah ketakutan luar biasa! Ia menghampiri mereka berdua, mengajak bicara pembahasan yang ringan dan bersahabat, sama sekali bukan soal merokok di tempat terlarang. Sebelum pamit, ia menawarkan cerutu dan berkata sambil mengedipkan mata, “saya akan senang jika kalian merokok di luar.” Sederhana, dan damai.

Demikian. Menegur, yang tidak membuat suara meninggi atau detak jantung berdetak lebih kencang. Tidak menyalahkan, tapi menegur. 🙂
Salam,

Saya.

Djogdja, 070317. Boy-sitter and single lady at home (for now)