Terima Kasih Perjalanan

“Saat ini mungkin kita hanya bertemu. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di kemudian hari. Harapanku dan harapanmu mungkin saja berbeda. Namun, siapa sangka bila ternyata muara kita sama. Aku berdoa seperti itu, entah kamu.”

(K.Gunadi – Lautan Langit)

Kutipan ini seperti sebuah self-introspection buatku. Mungkin hari-hari yang lalu kita berbuat bodoh. Memang kadang hati yang terlalu membuncah kegirangan seringkali menutupi logika berpikir. Siapa yang mau-maunya datang dari kota yang jauh seorang diri hanya untuk bertemu orang tuanya beberapa jam saja. Logikanya, pasti memakan waktu lama di dalam perjalanan, lelah, bising di dalam keramaian kendaraan umum, panas-hujan saat berjalan. Tidak ada keindahan di dalam keluhan. Tapi semuanya dijawab dengan alasan ‘karena cinta’. Mereka yang cinta dengan orang tuanya akan melakukan apa saja untuk menciptakan simpul senyum di wajah ayah-ibunya

Bertambahnya usia si anak pun akan menambah rasa dan ruang baginya. Mulai dekat waktunya untuk membagi rasa dengan orang lain. Entah kapan, tapi akan. Mulai akan ada masanya si anak berbuat bodoh dengan alasan yang sama kepada orang tuanya. Hingga nantinya akan ada kebodohan-kebodohan indah yang akan terjadi sehari-harinya, dengan alasan yang sama. Hari-hari ketika si anak tidak lagi menjadi tanggung jawab orang tuanya. Entah kapan, tapi akan.

Menjelang tiba masanya, hanya doa yang bisa mengantarkan. Agar dipertemukan dengan ‘komplementer’ dirinya. Yang dapat bertukar pikiran secara terbuka tanpa harus berpikir dua kali untuk bertanya. Yang dapat membangun sebuah keluarga yang indah, tanpa ragu memercayainya. Yang dapat menerima kekurangannya, yang ia ragukan apa bisa diterima dengan tangan terbuka olehnya, yang tertutup rapat tak bercelah sebelumnya. Sebelum berjumpa, biarkan doa yang mengantarkan rindu kepada entah siapa itu dia.

Melalui perjalanan, aku diajari banyak perkara. Bahwa kita hanya setitik air di antara lautan lepas. Hanya segenggam tanah di antara daratan luas. Tidak cukup banyak pengetahuan di dalam kepala ini, tidak cukup besar cinta di dalam hati ini. Maka terbukti benar, “Cintailah Yang Maha Memiliki Segala jika kamu ingin mencintai yang Ia miliki.

Processed with VSCO

 

Percayalah rindu itu baik 🙂
Tak disangka ternyata perjalanan benar adanya memberikan pelajaran.
Walau sekadar menebar pandangan dari satu jendela ke jendela lain, tapi potongan hati mulai tertata kembali. #terimakasihperjalanan .

 

Salam,

Saya.

140217. Dalam rangka memenuhi komitmen TueDue, perjalanan pulang ke rumah, ditemani Lautan Langit bermodal pinjam dari sahabat.

Advertisements

One thought on “Terima Kasih Perjalanan

  1. dkcappucino says:

    Aahh.. Pas lagi baca buku ini..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: