Monthly Archives: February 2017

Di Antara Gerbong Kenangan dan Gerbong Harapan

Dear #Perjalanan,

Terima kasih sekali lagi telah menghantarkanku berjalan dari gerbong paling belakang ke gerbong tempat dudukku berada. Sengaja aku masuk dari gerbong pangkal, agar tidak ketinggalan darimu. Aku diberi waktu banyak, jadi ada jatah untuk menikmati masa-masa berjalan menuju tempat dudukku bersamamu.

Hingga akhirnya aku tiba di gerbongku dan mulai menfokuskan penglihatan minus banyakku mencari tempat dudukku, kamu memberiku kenangan.

Awalnya mengira aku akan menghabiskan waktu yang sia-sia berjalan jauh seperti ini. Kupikir, seharusnya aku naik di pintu gerbong tempat aku seharusnya berada saja, langsung berjumpa kursi kosong jatah perjalananku. Ternyata! Kau memberiku banyak cerita. Walau bukan guru, ternyata kau pintar juga memberiku pelajaran. Terima kasih πŸ™‚

Perbincangan-perbincangan ringan kita yang begitu saja muncul di benakku setiap kali melihat sesuatu terjadi, membuat otakku bekerja. Dan tidak hanya sekadar bekerja seperti aku belajar di belakang meja, metode pembelajaranmu luar biasa. Kau mengajakku untuk mencoba berpikir dari sudut pandang yang bukan aku. “Coba pikirkan, bagaimana kalau kamu menjadi dia? Bagaimana kalau kamu tidak berada di posisi senyaman sekarang? Bagaimana kalau kamu sedang tidak membutuhkan yang kamu punya? Bagaimana… bagaimana… dan bagaimana lainnya. Hmmm interesting. Tanpa papan tulis, slide power point, jurnal ilmiah, kamu mengajarkanku hal-hal baru. Hingga akhirnya aku tiba di gerbongku dan mulai menfokuskan penglihatan minus banyakku mencari tempat dudukku, kamu memberiku kenangan. Terima kasih πŸ™‚

1487691589395

Di antara (gerbong) kenangan dan (gerbong) harapan

Dear #Perjalanan,
Aku mendapatkan kursi yang nyaman. Aku duduk di samping jendela, dan arah kursiku searah dengan arah kereta. Sesekali aku tertidur ketika lelah melihat pemandangan yang berjalan cepat dari titik tumpu posisiku, sesekali aku terbangun dan tersenyum melihat hijau-hijauan pemandangan yang dilewati. Kadang aku memandang pegunungan dan pemandangan-pemandangan damai itu, kadang berganti menjadi daerah pemukiman padat tidak tertata, kadang bahkan perkotaan dengan gedung-gedung pencakar langit. Semua pemandangan yang kulihat disini bergerak, berganti-ganti posisi dari jendelaku. Dan aku hanya duduk diam.

Pasti ada harapan di depan sana. Oh, tentu. Yang aku dapatkan dari gerbong kenangan masih kubawa.

Aku ingin berjalan seperti kita sebelumnya. Temani aku. Aku belum menjangkau seluruh bagian kereta ini. Di depanku ada beberapa gerbong lagi. Aku penasaran, ada apa disana. Mana tau, aku bisa membantu seorang renta mengambilkan barangnya di tempat barang-barang di atas kepalanya, atau mendiamkan anak kecil yang menangis karena tidak mendapatkan keinginannya. Mungkin saja ada seorang turis yang kebingungan mencari gerbong makan tapi tidak ada yang bisa berbahasa dengannya, atau bisa saja bertemu jodohku di antara gerbong-gerbong sana? Ayo kita berjalan-jalan saja. Aku sudah membawa bekal, aku juga akan membawa tas kecilku, di dalamnya ada barang-barang penting yang akan berguna sewaktu-waktu. Tapi kalau misalnya aku tidak punya yang kita butuhkan nanti… ah nanti saja kita pikirkan. Pasti ada harapan di depan sana. Oh, tentu. Yang aku dapatkan dari gerbong kenangan masih kubawa.

Terima kasih sebelumnya mau menemaniku ke depan. Aku percaya kamu akan menjadi guruku seperti di belakang tadi. Harapan sebelumnya ialah mencapai tempat dudukku, tapi kali ini untuk mencapai harapan masa depan. Terima kasih πŸ™‚

 

Salam,

Saya.

210217. Bersama dingin yang menyelimuti kota seharian penuh, but won’t let the Tue-Due be missed :*

Advertisements

Terima Kasih Perjalanan

“Saat ini mungkin kita hanya bertemu. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di kemudian hari. Harapanku dan harapanmu mungkin saja berbeda. Namun, siapa sangka bila ternyata muara kita sama. Aku berdoa seperti itu, entah kamu.”

(K.Gunadi – Lautan Langit)

Kutipan ini seperti sebuah self-introspection buatku. Mungkin hari-hari yang lalu kita berbuat bodoh. Memang kadang hati yang terlalu membuncah kegirangan seringkali menutupi logika berpikir. Siapa yang mau-maunya datang dari kota yang jauh seorang diri hanya untuk bertemu orang tuanya beberapa jam saja. Logikanya, pasti memakan waktu lama di dalam perjalanan, lelah, bising di dalam keramaian kendaraan umum, panas-hujan saat berjalan. Tidak ada keindahan di dalam keluhan. Tapi semuanya dijawab dengan alasan ‘karena cinta’. Mereka yang cinta dengan orang tuanya akan melakukan apa saja untuk menciptakan simpul senyum di wajah ayah-ibunya

Bertambahnya usia si anak pun akan menambah rasa dan ruang baginya. Mulai dekat waktunya untuk membagi rasa dengan orang lain. Entah kapan, tapi akan. Mulai akan ada masanya si anak berbuat bodoh dengan alasan yang sama kepada orang tuanya. Hingga nantinya akan ada kebodohan-kebodohan indah yang akan terjadi sehari-harinya, dengan alasan yang sama. Hari-hari ketika si anak tidak lagi menjadi tanggung jawab orang tuanya. Entah kapan, tapi akan.

Menjelang tiba masanya, hanya doa yang bisa mengantarkan. Agar dipertemukan dengan ‘komplementer’ dirinya. Yang dapat bertukar pikiran secara terbuka tanpa harus berpikir dua kali untuk bertanya. Yang dapat membangun sebuah keluarga yang indah, tanpa ragu memercayainya. Yang dapat menerima kekurangannya, yang ia ragukan apa bisa diterima dengan tangan terbuka olehnya, yang tertutup rapat tak bercelah sebelumnya. Sebelum berjumpa, biarkan doa yang mengantarkan rindu kepada entah siapa itu dia.

Melalui perjalanan, aku diajari banyak perkara. Bahwa kita hanya setitik air di antara lautan lepas. Hanya segenggam tanah di antara daratan luas. Tidak cukup banyak pengetahuan di dalam kepala ini, tidak cukup besar cinta di dalam hati ini. Maka terbukti benar, “Cintailah Yang Maha Memiliki Segala jika kamu ingin mencintai yang Ia miliki.

Processed with VSCO

 

Percayalah rindu itu baik πŸ™‚
Tak disangka ternyata perjalanan benar adanya memberikan pelajaran.
Walau sekadar menebar pandangan dari satu jendela ke jendela lain, tapi potongan hati mulai tertata kembali. #terimakasihperjalanan .

 

Salam,

Saya.

140217. Dalam rangka memenuhi komitmen TueDue, perjalanan pulang ke rumah, ditemani Lautan Langit bermodal pinjam dari sahabat.

Berproses Banyak Caranya

Berproses adalah PR semua manusia. Dari bayi hingga renta. Dari mengeja hingga menghasilkan karya. Dari merangkak hingga berlari. Dan dari hati hampa, hingga terisi rasa. (Riestyane, 2017)

Berproses banyak caranya. Kenapa sih sesuatu perlu diproses? Buat apa?
Coba kita mencerna dengan logika teoritis.
Alur yang sangat kita kenal sejak pertama kali belajar tentang keilmuan : INPUT β†’ PROSES β†’ OUTPUT

Sebenarnya sudah cukup menjelaskan. Bahwa proses itu harus dilakukan untuk mengolah sesuatu yang masuk (input) menjadi sebuah hasil (output).
Contoh sederhana : beras (input) β†’ dimasak (proses) β†’ nasi/lontong/bubur (output).
Contoh ini bisa menjadi sebuah analogi kehidupan kita. Ketika dilahirkan, kita adalah seorang anak yang diibaratkan, bahkan difirmankan Allah, sebagai kertas putih bersih. Tanpa tanda apapun. Kita terlahir sebagai seorang manusia yang belum tahu mana yang benar atau salah, belum tahu lebih suka makanan apa, belum tahu lebih suka berinteraksi dengan orang yang bagaimana, belum tahu apa-apa. Input.

Di hari ketika tangis kita terdengar di dunia, proses sudah dimulai sebenarnya. Bagi agama saya, ayah si anak yang baru lahir akan melantunkan azan untuk anak laki-laki dan iqamah bagi anak perempuan. Proses pertama : si anak dikenalkan bahwa ia terlahir sebagai muslim/muslimah. Dikenalkan tentang agamanya, ‘Ini nak, lantunan ajakan untuk menyembah Allah’. Di agama-agama lain saya percaya juga ada proses yang serupa, yang mengenalkan sekaligus menjadikan si anak sebagai bagian dari agama keluarganya. See? Baru lahir saja sudah ada proses.

Proses lainnya berkembang dari hari ke hari. Bagaimana si anak mulai belajar mengenal suara ibunya, merasakan kehangatan rumahnya, dan semua hal yang akan mengisi kertas putihnya tadi. Mulai dari bayi, hingga renta. Mulai dari disuguhi, hingga mencari sendiri.

Beranjak dewasa, si anak sudah menjadi seorang yang dapat berpikir sendiri. Mulai dari kepentingan dirinya sendiri, hingga muncul rasa empati untuk bergelut dengan dunia sekitarnya. Entah lingkungannya baik atau tidak, pengaruh itu berdampak ke si anak. Sayangnya ketika pergaulan yang buruk melekat padanya, menjadikannya seorang yang tidak bermanfaat bagi orang lain. Namun ketika pelajaran berasal dari lingkungan yang baik, seseorang akan berkembang menjadi pribadi yang mulia. Proses.

Ibarat beras tadi, entah akan diolah menjadi apa, itu tergantung bagaimana cara memasaknya. Jika ingin menjadi nasi, cara memasaknya beda dengan lontong, atau bahkan bubur. Tapi semuanya sama-sama bisa dimakan, dan enak dikonsumsi. Seorang manusia pun begitu. Cara berprosesnya macam-macam, dan akan menjadi orang yang berbeda-beda pula. Tidak menjadi masalah, selama memberikan faedah yang positif bagi orang lain. Output.

Contoh lain versi abstrak mungkin bisa saya tambahkan… ini soal hati. Yang seperti dikutip di atas, “Dari hati yang hampa, hingga terisi rasa”.

Pernahkan kamu mendengar istilahh ‘tidak punya perasaan’ ? Seringkali ditujukan kepada orang lain yang tidak punya rasa simpati kepada orang lain sehingga menyebabkan kondisi orang lain itu tidak dalam kondisi baik. Sebenarnya, semua orang punya rasa. Dan rasa itu banyak rasanya. Bahagia, sayang, kasihan, dll : rasa positif. Sedih, benci, kesal, dll : rasa negatif. Maka ketika sedang berproses, berhati-hatilah dalan memilih langkah. Apakah sudah mengambil jalur yang tepat untuk menjadi orang yang lebih baik, atau justru salah jalur? Salah jalur berakibat pada kepribadian yang tidak positif jangka panjang.

 

Dan soal rasa, hanya perlu dirasakan untuk mengenalnya.

Salam,

Saya.

Tangerang, 07022017. While collecting insights for my tue-due πŸ˜€

Advertisements