Masa yang Tak Lama, Ternyata.

 

PhotoGrid_1451574900534

Setelah puluhan niat mengisi kembali blog ini,finally, my 2015’s resolution comes true, exactly in the last time of 2015. Hahaaa.. sungguh epic. Well, selama 1 tahun ini saya sudah ngapain ajasih dan apa yang sudah terjadi di dalam kehidupan saya? Actually, this is my year. Totally. Cukup banyak momen tahun ini yang akan dikenang dan di story telling in ke anak-cucu. So, may you enjoy this and learn something like how I did.

Januari – Februari, 2015
Awal tahun ini, ritual kami (aku dan Mbak) adalah bikin kartu Happy Birthday untuk Ayah-Ibu. Dua orang tua ini terlahir sweet dengan destiny yang membuktikan kata-kata orang, “jodoh ga akan kemana”. Ibu lahir di tanggal pertama,  ayah di yang kelima, dan dua-duanya di tahun yang sama. Beruntungnya, kami bisa nyelamatin barengan. Bokeknya, Januari itu masa tersulit buat dompet yang selalu kesepian dan kartu ATM yang lelah keluar masuk mesin selagi masih ada saldo. Hahaaa.. Kami tidak di kota yang sama dengan orang tua kami yang gaul abis ini, tapi selebrasi tetap jalan. Komunikasi selalu lancar, jarak yang beribu-ribu mil pun seperti tiada bagi kami J Selain ayah-ibu, ada adik sepupu kecil kami juga yang berulang tahun di antara beliau-beliau. Tanggal ketiga. Di tahun 2015, kami masih melakukan kebiasaan keluarga seperti masa-masa sebelumnya. Setiap yang berulang tahun, anak-anak ataupun orang dewasa, has a right to be celebrated, even just with a little cupcake and one candle. Entah apa filosofinya, yang jelas setiap hari lahir mengingatkan kepada setiap kita untuk bersyukur dengan banyak tahun yang telah dilalui dan introspeksi diri untuk kekurangan yang ada. Saya kira tahun ini panitia ulang tahun Januari saya seorang, ternyata Mbak dapat hari cuti dan everything was going like we used to. Btw kakak saya ini sekarang nun jauh di Tangerang sana, jadi yang biasanya kami jambak-jambakan berdua, cekikikan niruin film, nyanyi-nyanyi false berdua, jadi ga lagi sekarang. Makanya dari tadi ngomongnya “kami” mulu,  because she’s my only one sister, and also my best pal. Meanwhile sejak beberapa bulan terakhir di 2014 saya menjalin relationship yang cukup serius dengan skripsi, jadi ga terlalu lonely lagi. Okay, lanjut.

So, setelah kepanitiaan berakhir, time for her to go back, and so did I. Untuk 1,5 bulan ke depan saya bernaung di rumah orang bersama dengan beberapa lainnya menyelesaikan sebuah misi. Yaa, kami KKN. Hahaa.. Karena terikat relationship kayak yang dibilangin tadi, maka dari itu wilayah KKN saya tertuju ke Klaten, yang masih memungkinkan untuk melancarkan misi ngacir menuntaskan proposal skripsi dan berjumpa dosen yang salah satunya akan menempuh studi S3 di NZ. Mei tahun ini. That’s why this relationship looked so priority for me, hahahaaa.. Lokasi KKN berada di sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang berada di antara kota tempat rumah saya dan kota tempat kos saya. So berangkatlah kami secara serentak ke berbagai wilayah KKN. Pakaian dan peralatan-peralatan kehidupan lainnya siap dibawa. Saya dan dua teman saya berangkat ke lokasi upacara pelepasan peserta KKN sekitar jam 6.30 an pagi, by taxi. Berhubung jalanan di depan kos cukup kecil untuk sebuah jalan raya,dan bapak taksi ogah berhenti di sisi jalan kami, cecewe ini pun menyeberangi jalan sambil membawa barang-barang  mereka. Tiba-tiba, nasib buruk mengawali perjalanan KKN saya ini dengan kecelakaan kecil dengan sekuter bapak-bapak yang sudah tua dari arah kanan saya. BRUK, badan terhuyung-huyung sampai tergeletak ke kiri. Shari, teman kost saya sejak awal kuliah, langsung kaget, dan yang sama-sama kami takutkan adalah tulang belakang saya, yang ada penn sejak 5 tahun sebelumnya. Untungnya saya sadar dan tulang belakang aman. Kami langsung ke dalam taksi tapi pergelangan kaki saya semacam cenut-cenut, dikira cuma keseleo kecil, karena terasa sakit ketika dibawa untuk berjalan. Walhasil, I should had to survive and pretend to not feel the pain. Sayangnya, sesampainya di lokasi KKN, which is sudah beberapa jam pasca jatuh, pergelangan kaki yang tadi sakit semakin membengkak. Do you know how big the tennis ball is? Kurang lebih segitu gedenya. Salah satu teman KKN menemani saya ke puskesmas kecamatan, dan ibu-ibu petugasnya bilang tidak ada yang serius. Tapi sakitnya warbiassah, masa iya sih ga ada yang serius. Jadi berjuanglah hidup saya menahan rasa perih ini. Di hari ulang tahun Ayah. Hiks. Seminggu setelahnya saya baru akan berkunjung ke Solo, sekalian ngampiri dokter. Eh dimarahin dokter, kenapa baru sekarang kesini. Jadinya dibaluti elastic bandage, ga boleh ditekuk sampai benar-benar kuat. Dan it long last,sampai minggu terakhir KKN. Subhanallah. U can imagine how to live in a foreign place and almost every night woke up because you felt the pain. Sungguh KKN. Untungnya aku punya teman-teman KKN yang luar biasa. Saling membantu dengan capability masing-masing, diwarnai dengan bumbu-bumbu kehidupan satu atap. Hahahaaa…

Oh ya. Kami berKKN di sebuah desa dari sebuah kecamatan di Klaten. Namanya Desa Ngawonggo. Buat kamu yang berkendara motor dari Solo ke Jogja, gang desa ini ada di sebelah kiri, terpampang juga papan nama perusahaan besi disitu. Ya, banyak pandai besi disini. Sayangnya kami tidak sempat berkunjung ke dalamnya karena tidak memungkinkan. Anyway, kami bersepuluh orang. 7 cewe, 3 cowo. Cecewe tinggal di paviliun rumah Pak Lurah, cecowo tinggal di sebuah rumah tinggal agak jauh dari tempat cewe. Plusnya cewe, tempatnya lebih aman, rumah Pak Lurah berpagar dan kami tidur di dalam satu ruang tidur yang cukup besar. Minusnya, sarat akan air. Hahaaa.. Walaupun kamar mandinya dua,tapi kalau airnya tak ada mau gimana. Lama-lama kami sering menyeret selang super panjang dari kran di pekarangan pak Lurah ke kamar mandi. Pernah waktu itu air di kamar mandi hidup dan suuperr gede keluarnya (biasanya setetes-tetes doang), kami langsung berucap tasbih sambil ada yang bergurau,” mungkin kita lolos ujian tahap 1, jadi dapat hadiah air dari Allah,” Hahahaa…

Dari cerita teman-teman sekampus yang KKN di tempat-tempat lain, banyyak cerita-cerita persekongkolan, cinlok, dan problema yang pake hati lainnya di dalam satu kelompok. Luckily, kita ga seheboh itu sih. Sebel nya beberapa detik trus guyon. Gosip beberapa menit trus mangan. Marah beberapa jam trus turu. Gitu doang kita mah, dilalui day by day. Semuanya pernah sakit. Kesepuluhan ini ternyata juga manusia. Pria dan wanita. Kebetulan sedang ada wabah DB, dan satu teman kami kena. Eyyaaaa, bumi gonjang ganjing. Anissa, sang korban, diserang si nyamuk di lokasi KKN. Hmmmmmm, gimana ga parno tuh kita.. Mulai detik itu kami sehabis mandi dan sebelum tidur selalu pake lotion anti nyamuk. All day long.. Oh ya, kami bersepuluh nih. Ada Anif (cewe chubby pecinta K-Pop, bahkan bangun tidur yang diliatin video K-Pop dulu -_-), Anissa/Retno (enterpreneur muda yang happy banget kalo cerita-cerita), Anisah (ibu muda super kalem killer, awalnya kalem lama-lama serem uga hahaa), Dina (teman pertama yang ngajarin saya kalo parfuman itu ga cukup sekali doang), Mara (cewe pinter pendiam tapi tangan kreatipnya ga pernah diam), Mega (Mbak Klaten super zibbuk dan banyak koneksi ke luar, kalo makan dikit banget takut ndut), Agel (ketua kelompok KKN kami nih, tapi suka ngeselin kalo dia udah ketemu DOTA), Nanda (dedek yang cukup cepat tanggap lah, suka lagu Maroon 5,tapi band Barat lain ga doyan -_-), Vrendy (cowo kribo gondrong pemikat hati ibu-ibu yang aliran seninya ada ikan-ikannya [lupa namanya apa,hehee]), and Me. Lucu yaa,kami tinggal bareng  1,5 bulan, trus yagitudeh. Alhamdulillah terjalin ikatan persaudaraan yang baru, banyak pelajaran hidup baru selama KKN, warga pun banyak warnanya dan adaptasi yang win-win solution sungguh dipertimbangkan oleh 10 pemuda tanggung ini. #SOLOvely.

 

Maret-April, 2015

6 Maret proposal skripsi diperjuangkan. Semacam ngelamar anak orang, si pelamar harap-harap cemas kalo-kalo proposalnya ditolak, atau dirombak ulang, atau..atau.. yaa banyak pikiran jelek menghantui. But life must go on, bimbingan skripsi yang super padat ini tak kan kubiarkan berakhir kandas. Walhasil, skripsi ini direstui dan harus segera dijalankan. A.S.A.P, because we are running  out of time. Dan hepinya lagi, teman-teman yang KKN dari luar-luar pulau pun sudah kembali ke pangkuan kampus, jadi karib-karib dekat penyemangat setiap lembar skripsiku hadir menghembuskan harapan keberhasilan untukku. #SOLOvely

Perjuangan benar-benar dijalankan. Ini first project yang luar biasa, saya harus mengumpulkan jawaban dari 500 orang responden untuk diolah menjadi hasil analisis skripsi. WARBIASAHH.. terkesan impossible untuk masa penelitian yang kurang lebih 1 bulan saja, apalagi setengahnya dari wilayah hometown saya, Ranah Minangkabau. Rencana pulang kampung sambil skripsian pun pupus, dan harus mencari banyak koneksi untuk menyebarkan data, disini dan disana. Wffuuuu,,, Sembari revisi skripsi, lots of multitasking things be done, hilir-mudik menyebar data, mengecek google form, mengontak teman-teman dan orang tua disana. Even my birthday sebulan setelah seminar proposal pun tidak mencerahkan dunia. Kedua dosbing saya pernah bergurau dan saya tidak sengaja mendengar, yaa beliau-beliau memperbincangkan persiapan keberangkatan bapak dosbing 2 yang mau ke NZ, diselingi mengomentari anak-anak sesama bimbingan mereka. Both of them ngerasa 500 angka yang impossible untuk diperoleh, besides teman-teman sesama bimbingan saya cuma mengumpulkan sekitar 100-200. Jadi sedapatnya berapa nantinya, beliau-beliau pasrah saja, apalagi lokasi pengumpulan data satunya nun jauah di mato. Well, guest what? Alhamdulillah, there were 515! Sungguh ini skripsi ga bakalan kelar kalo sendirian dikerjain. Siapa bilang skripsi itu harus dikerjain sendiri? Perlu ada tangan-tangan mulia yang mendorong ini semua. Wallahuakbar. J

 

Mei, 2015

11 Mei, sidang skripsi. Paginya diriku menelfon Ayah, Ibu, Mbak, Nenek n semuanya, memohon restu untuk dimudahkan ujian terakhir di kuliah ini. Dedicated to many many people who involved in, Alhamdulillah lulus sudah berkuliah 3 tahun 9 bulan lamanya. Dua dosbing ku pun bernafas lega, apalagi Pak Hakim, the one who prepared to be in NZ for the next 3-4 years. Beliau dosen muda super pintar, baru 2 tahun di kampus kami dan kini sudah chaww.. Saya dan 4 mahasiswa bimbingannya yang lain, cukup ketat pembimbingannya untuk bisa sidang di bulan ini. Selain beliau yang hilir mudik mengurus ini-itunya, kami juga harus bisa berpikir cepat dan tepat. Sekali lagi, skripsi ga bakalan kelar kalo dikerjain sendirian,trust me. Behind this scene,there are four amazing fighters like me, too, yang kalo kebingungan ga mau diem,langsung sharing. Topik kami yang kebetulan berhubungan dengan Javanese culture membuat diskusi-diskusi ini bertautan antara skripsi yang satu dan lainnya. I bet not all of students might pass through this,but  they did. Ada saya, Kelly (cewe Jawa yang ga keliatan sebelah mana Jawanya karena lama di Ibukota, berkutat di Kraton untuk skripsinya), Unun (mungil imut menggemaskan n suka teriak-teriakin gue ngebakar-bakar. Ngebakar semangat,ehee), Tiasa (si bos yang syar’i dan hatinya sungguh halusss, kalo hidungnya dah merah jangan dipuk-pukin entar langsung nangis,hahaa),n Hesti (Mbak yang wise dan tenang kalo berpikir, ga grusa-grusu , orangnya kreatif dan penyayang anak-anak). Banyak haru-biru sampe skripsi ini jadi, semuanya pasti pernah bosen tiap hari bukain folder file skripsi mulu, kadang udah capek trus nangis sendiri, kadang escape begitu saja tanpa kabar-kabar, ada. Ya ga heran, dan yaudah dilalui saja, itung-itung ngeluarin emosi jiwa kan. Dan pertemanan kontrak skripsi ini diperpanjang hingga semoga tak putus-putus. Akhir Mei, papah dosen kami pergi dan there was a little gift for making him survive in there, hahaa.. #SOLOvely

 

Juni-Juli, 2015

Setelah impossible bertoga di bulan Juni, kami pun mendaftarkan diri menjadi calon wisudawati bulan September. Pertengahan Juni Mbakku ulang tahun, so sekalian menghibur diri, I went there for about 2 weeks. Kebetulan waktu itu juga baru dimulai puasa Ramadhan. Beberapa hari sebelum pulang,  kami dapat kabar Nenek sakit. Padahal biasanya sehat-sehat aja, makanya heran nenek sakit apa. Awalnya cuma demam, dan beberapa hari setelahnya mulai pikun dan karang berbicara hal-hal di masa lalu secara tiba-tiba. Setelah saya kembali pulang, beliau masih terlihat sehat-sehat saja. Lama-kelamaan nenek mulai lemah, tidak ada tenaga lagi. Nenek ini Ibu dari Ibu saya, yang mana saya selalu bersama beliau sejak lahir sampai sekarang. Nenek orangnya strong abis, strong lah pokoknya. Dulu kalau Ayah-Ibu ga ada yang jemput pulang sekolah, nenek yang jemput sambil ke pasar. Nenek jago masak. Apppa aja! Jago jahit, nenek dulu tailor. Pintar nggambar. Keras tapi penyayang. Sabar, ga banyak maunya. Sejak jatuh tahun 2011an, kursi roda dan tongkat U selalu digunakannya. Tinggal dengan Nenek super berwarna, pasti tau kan bagaimana perbedaan di masa beliau muda dan di masa kita muda. Tapi nenek super lucu jugaa, suka minta dikucir kanan-kiri lah rambutnya, minta dibeliin permen coklat CH*CH*, sering curhat, sering cerita masa-masa dulu, walaupun sering diulang-ulang tapi kalo nenek yang cerita tetep aja lucu, hahaaa… Selama kuliah lama-lama emang jarang pulang karena kegiatan organisasi dan yang belakangan ada skripsi. Sekalinya pulang nenek heboh, “emang sejauh apasih kuliahnya, jarang amat pulang”. Kalau tau hari ini aku pulang, beliau stand by duduk di kursi roda di ruang tengah sambil nonton TV serial Mahabrata. Pernah waktu itu kereta full, jadi dapetnya yang malam,dan sampai rumah udah jam 9 lewat. Beliau masih menunggu di depan TV sambil mengantuk-ngantuk. Tetap sih, diomelin, tapi dicium-cium juga. Ah emang lah nenek, hahaa..

Akhir Juni adalah akhir masa kost ku di Solo. Tuntas sudah amanah ini, saatnya kembali ke rumah. Semua barang-barang dibawa pulang, beberapa diberdayakan teman-teman disana. Sambil mengurus persiapan wisuda, sambil jaga nenek juga, bersama Bunda, kakak dari Ibu. Nenek makin pikun dengan waktu, tidak lagi paham kapan siang dan malam. Kadang tengah malam beliau memanggil-manggil kami, meminta makan siang. Perlu kesabaran super supaya beliau memaklumi dan kami kembali tidur. Kesehatan nenek semakin memburuk, di minggu ketiga kami bersama Buklek (adik Ibu) dan Paklek membawa beliau ke RS, dan dirujuk ke RS Bethesda. Saya menemani nenek di ambulans, beliau memang suka takut kalau sudah di tempat asing. Malam pertama menginap di RS, nenek dilarang minum. Bibirnya sudah mulai mengering, lama-lama lelah karena minta minum tapi tidak ada yang memberikan. Malam itu Bunda tidur duluan, dan saya berjaga. Nenek memanggil namaku dan bilang mau minta susu. Bagaimanapun instruksi dokter belum berubah, dan saya hanya bisa menghibur dan menjanjikan minum esok hari. Tapi besoknya tingkat kesadaran nenek menurun, hingga lima hari berikutnya kami melepas nenek keridhaan Allah Subhanahuwata’ala. Saya orang terakhir yang beliau ajak bicara, and I did nothing. Beberapa hari setelahnya Hari Raya Idul Fitri, lebaran pertamaku tanpa nenek. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

 

Agustus, 2015

We supposed to celebrate Grandma’s birthday on 10th, but we couldn’t anymore. Kami (saya bersama Bunda,Buklek,dll) berniat berziarah di hari itu. Sehari sebelumnya Buklek sudah mengabari pagi-pagi supaya diriku tak lupa dengan rencana ini. And so, what’s happened is happened. Cuma berselang beberapa menit kemudian saya terpeleset di kamar mandi belakang. Just like how I fell 5 years ago….. Tulang belakang yang ditanami penn itu langsung bereaksi heboh. Otot-otot menegang, dibaluti takut yang super, takut tulang itu tidak terselamatkan lagi. Tangan sungguh gemetar, berteriak minta tolong pun sakit rasanya. Dipapah seperti orang mau melahirkan ke dalam mobil, aku cuma bisa memejamkan mata, menggenggam alas tidur, bergumam takbir dengan air mata yang super boros keluar terus tanpa diminta. Ayah menelfon dengan suara parau,sungguh tak tega berkata sakit, cuma bisa bilang “doain aja ga kenapa-napa yah”. Ibu yang hari itu flight schedule ke Padang jam 1 langsung putar balik dari Jakarta ke Jogja lagi. Sungguh pagi yang pelik dan aku tak tahu waktu lagi selain waktu untuk berharap kemurahan-Nya.

Kenapa sih pada panik? Kepeleset doang padahal. Orang banyak yang bilang gitu. Kecuali kalau tahu health history ku. Jatuh dari lokasi rapelling 5 tahun lalu membuat salah satu tulang lumbal ku remuk, sehingga butuh 2 penn permanen untuk menopangnya. For the rest of my life. Dan itu pun menjadi awal pertemuanku dengan banyak alat-alat bantu medis seperti kursi roda, tongkat U, tongkat kaki 4, kateter, dan teman-temannya dalam waktu lama. Wanti-wanti dokter yang paling diingat seluruh keluarga ku adalah, “masih di usia pertumbuhan jadi recoverynya cepat. kalau sekali lagi jatuh, wallahua’lam saya ga bisa jamin bisa normal lagi atau lumpuh total.” Siapa yang ga freaking out mendapati aku jatuh lagi. Setelah dicek, Alhamdulillah “Cuma” trauma, tapi 3 hari di RS tidur miring pun dilarang. Hari keempat mulai belajar duduk, walaupun agak pusing. Ini progres yang cepat, di hari kelima sudah mulai berjalan dan boleh pulang.

Sebuah momen yang tidak terduga dan untuk kali kedua kembali ke RS ini hanya berselang sebulan. Aku tak pernah memperlihatkan air mata di depan orang tua, tapi kali ini I break the rule. Ayah bahkan langsung cuti seminggu, Ibu kembali stay disini, memastikan semuanya kembali normal. That time, I make a promise to make a good future for them. Kepuasan orang tua ada pada anaknya, apapun bentuk usahanya untuk memberikan kebahagiaan. Sekali saja menodai kebahagiaan itu, si anak tak tahu bagaimana cara menambalnya selain dengan kebahagiaan lainnya. #SOLOvely

 

September, 2015

Do you know what makes me healthy after that moment? Karena gue mau wisuda, hahahaa…. Zonk banget momentum yang ditunggu-tunggu 4 tahun harus absen karena sakit. Ada yang bilang waktu datang ke RS, bisa kok wisudaan pake kursi roda. No way, cukup di SMA aku pake itu, and not in  my graduation day. This is my tips for you who wanna be healthy from your illness : targetkan proses penyembuhanmu, banyak makan dan istirahat. That is all. J Alhamdulillah,5 September saya diwisuda bersama teman-teman lainnya, tapi sayangnya tanpa high heels baru, hahahhaa….

Satu hari saja tapi momennya sungguh berharga. Banyak senior yang bilang, “yang lega itu abis sidang,udah resmi jadi S.Psi, wisuda mah ngerayain doang gitu aja“. Tapi buat gue tetap spesial, apalagi waktu menunggu nama dipanggil ke depan menerima ijazah, Ayah udah ribet nge-chat, “mana nih, ga keliatan. Semua sama aja bentukannya.” Aku berdiri antri, ayah melambai-lambaikan tangan. He is far, but I can see the way he smiles, sumringah dengan kumis gantengnya dan mata berbinar. Yah, anak ayah udah sarjana =”) Keluar gedung auditorium, Ibu dan Mbak menyambut di depan pintu, sampai-sampai teman-teman duluan yang sadar, “wah udah disambut duluan aje lu” hahaha… Ibu dan Mbak beliin bunga, how sweet hahaha… Wanita paruh baya itu langsung menciumku berkali-kali, “makasi ya nak udah bikin bangga. Selamat yaa.” =”) #SOLOvely

Nenek yang udah heboh ngomongin warna kebaya wisudaku sayangnya ga kesampaian melihat cucunya diwisuda. Teman-teman pun menghampiri memberi selamat bersama bunga-bunga dan bingkisan-bingkisan. Joy is spreaded everywhere to everyone. And once again I couldn’t do anything without syukr. Wallahu akbar… Dan bunga-bunga kebahagiaan di grad-day itu kami share untuk nenek di makam.

 

Oktober, 2015

Bulan pertama pasca wisuda. Ikhtiar pencarian tempat bernafkah dimulai, mencari informasi kesana-kemari. Keseharian yang selalu berjumpa teman kuliah dari sarapan pagi sampai makan malam tidak lagi terjadi. Kesepian pasti, bingung juga pasti. Santapan rohani ringan bersama teman-teman pun tak ada lagi. Beruntungnya aku, selalu ada dua bocah yang udah jadi ukhti-ukhti cantik ini mewarnai hari-hariku. Walaupun cuma chat, tapi kadang kita bercanda, berdiskusi, meminta pendapat satu sama lain, kepo-kepo…. sampai akhirnya salah satu dari kami, Diah, akan sidang. Diah angkatan junior karena mengulangi ujian masuk PT kembali setahun setelah lulus SMA. Ohya, dua ukhti ini teman SMAku, btw. Berjumpa di ruang UKS karena ekskul PMR,yang berakhir geje kalau selalu ada kami, hahaha… satunya lagi Isti, lulus duluan karena IQnya ketinggian, jadi SMAnya cuma dua tahun. Perbedaan ini tidak membuat kegejean kami berkurang, hahaa.. Setelah sekian lama diriku terpisah oleh waktu, kami kembali dipersatukan dan insyaAllah tidak lagi terpisahkan.Persahabatan dibawah lindungan Allah selalu indah, ya. InsyaAllah… too speechless to describe this thing. Intinya gue menemukan titik kebahagiaan. #SOLOvely

 

November, 2015

Masih dengan ikhtiar, still digging any job vacancy and any hole of knowledges J Di pertengahan bulan, ternyata Ayah ke Jakarta untuk 2-3hari bertugas, and I make a coincident plan buat ke Tangerang dan ketemu bareng Mbak dan Ayah. I stayed around a week and refresh my dusty brain with fresh air. Vakansi religi, tawa lepas ala gue-mbak, and others. I also met my sister’s friends, they used to hang out together almost in every weekend. Ada Mbak Lisna, yang super putih chubby n bahasa Inggrisnya keren banget, n ada Irfan (iuh, that’s so weird to call you like this hahaaa) yang lebih cocok dipanggil Baymax. Cowo seumuran saya yang super jenius dan masuk kerja bareng Mbak. Badannya gede dan vulet, dan dua cewe ini ga jarang minta protection dari dia, ga heran kalo jadi Baymax. Hahaa..  well, I found another new connection again,this year, see? What a year! #SOLOvely

 

Desember, 2015

Di awal bulan ada periode wisuda lagi, dan kali ini 2 konco kostan aku jaman mahasiswa baru yang wisuda. Citra (cewe rempong pernah sekamar beberapa bulan, yang ogah buah-buahan tapi suka bubur S*N bayi, dan ternyata lebih tua daripada gue. koneksinya banyak.koneksi apa aja. Eheee) dan Shari (cewe Sunda yang ternyata Minang tulen, agak konyol tapi semua kekonyolannya diampuni karena cantik hahahaa). Sayangnya, di hari wisuda itu diriku harus tes, salah satu kantor BUMN. Sayangnya berakhir kandas sih,tapi ya kan ikhtiar yak 😉 Sebelum mereka pulang ke haribaan bunda-bundanya, kami farewell ke Sangiran, bareng Melinda juga (cewe cantik tomboy syar’i pinter and super baik tapi jaman kuliah sering dateng telat, even kuliahnya masuk siang). Ada juga Mbak Marash (kepala suku pergombalan se-Mesen raya yang juga ketua kelompok AAI saya, yang suka baper bersama dan bingung bersama), sayangnya ga ikutan ke Sangiran. Sepulang dari sana kami didadah-dadahin sama sunset. Super jernih tanpa cela. Keindahan-keindahan seperti ini selalu bikin mata (saya sih, ga tau yang lain) berkaca-kaca dan senyum sumringah di balik masker terukir mantap.  And I, once again, only could Syukr for all the things I got, especially happiness from family and friend. Wallahu akbar Y

 

And this is how I describe big moments in 2015. Quite important to retell to my new family in the future, soon. Masa yang tak lama, ternyata. Sekarang saatnya merangkai memori baru dan menyusun rencana sambil menikmati perjalanan hidup dengan satu kunci : enjoy joyfully. J

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: