Monthly Archives: January 2013

A Long-Night Conversation

Lon-night conversation. Don’t think this is what women use, #ifYouReallyKnow

I got a long conversation with my friend… Fantastic, nggak cuma sekedar ngoceh, tapi totally meaningful. Temen gue yang satu ini brilian, dia bikin banyak teori tentang bayka hal setiap topik yang kami bicarakan. Mungkin pada ngira gue lebay, tapi ini conversation yang asik, you won’t wasting your time secara percuma. Banyak yang kami ceritain disini, so, just look point by point, it’s too complicated to make it as one line, bahkan gue pun bingung kenapa topik ini ngalor-ngidul. Here are some :

  1. (tentang makna yang kita baru sadari betapa luar biasanya memiliki seorang sahabat, namun sayangnya baru disadari jauh setelah kita mengalaminya) “What you’ve create a long ago will know how great is that after you re-think about it, lke what you feel now.” #justsayin
  2. Biasanya mereka yang berpulang ke Rahmatullah karena sakit itu disehatkan dulu (yang sering gue liat sih begitu) > tentang kabar yang tiba-tiba datang dan membawa orang tercinta kita tak lagi bertemu dengan jutaan kenangan dan kebersamaan dengan kita.
  3. Hormon laki-laki itu tertahan cukup kuat, sekuat yang mereka punya. Perlu hal super ekstrim buat membuat hormon itu keluar. Penahan itu lebih pada gengsi, yang kuat dan pantang jatuh. Beda dengan perempuan, sedikit pancingan dapat membuat hormon keluar.
  4. Gengsinya laki-laki sejatinya untuk perempuan juga. Semacam kekaburan karakteristik, namun dibutuhkan sikap kontrol satu sama lain (laki-laki dan perempuan). Ketika beberapa perempuan lebih menyukai laki-laki yang manja dengannya, meluapkan perasaan sedih dnegan menangis.. Secara natural, hal itu wajar. Namun secara kodrat, laki-laki yang pada dasarnya memiliki feminisme, berusaha untuk menahannya. Ada beberapa saat dimana titik itu tak berlaku. Indeed, semacam memanusiakan manusia, terlepas dari gender. Bayangkan jika suatu ketika si cowok sedih dikit langsung nangis kaya cewek. Who’s gonna be an entertainer to be happy?
  5. Cowok yang kadang bersikap melankolis, dan terlihat sisi feminism lainnya, sejatinya wajar, karena cowok pada awalnya itu cewek kan? Berawal dari gen XX. Jika XX tetap, ia akan tetap menjadi XX, dan menjadi seorang perempuan. Sedangkan hal lainnya bisa terjadi, yaitu berubah menjadi XY. See? It comes first from women.
  6. Bayangkan jika dunia hanya memiliki laki-laki. Semua lingkungan bakalan cadas, keras kayak batu di gurun. Kering kayak paceklik.
  7. Hubungan Kegemaran Remaja pada Musik Trance dengan Jadwal Tidur dan Aktivitas Rutin : saran untuk judul skripsi 😀
  8. Ketika kita “mengonsumsi” tweet di twitter, banyak hal yang akan dibahas, tak hanya sekadar kicauan belaka. Butuh kekayaan intelektual dan kreativitas untuk menciptakan tweet laku. Bukan bermaksud jual-beli tweet, tapi sebisanya menjadikan apa yang kita post itu bermakna, menyadarkan orang lain, membangun semangat orang lain. Banyak hal daripada mengumpat, meng-publish kegiatan kita yang baru bangun tidur, belum gosok gigi, ngeliat cowo di depan rumah nongkrong, balik badan pas liat dosen lewat… Any advantage from those??? If doesn’t, don’t tweets those stupid things.
  9. Mencerna tweet dari orang lain ibarat dilema. Between care and careless, between attention and ego.
  10. Tak sedikit orang yang membiasakan dengki dengan cover kepedulian. Most of them, ketika mengetahui bagaimana aslinya dirimu, yang mungkin tak selaras dengan dirinya, akan meninggalkanmu. Semacam ” kecemburuan yang elegan”. Wuuuu 😀
  11. Indigo : konseptual-interdimensional- seni-sosial
  12. Orang jadi kuat karena sudah terbiasa, dan terlalu lelah menjadi orang yang lemah. That’s why they (people) chose to be strong 🙂
  13. Manusia yang berpasangan dengan jin : logiskah? *permasalahan ngegantung* (any opinions?)

(beberapa conversation ini telah disadur seperlunya)
I wish I get more meaningful time like this. Mari share ilmu, guys 😉 I’m ready 24 hours/7 days 🙂

Advertisements

For My Beloved Friend

“Mencari 1 teman lebih sulit daripada mencari 1000 musuh.”

Begitu banyak manusia di sekitar kita, ikut hadir mewarnai setiap detik yang dijalani. Tak hanya orang tua, teman dekat, pacar, saudara. Bahkan orang yang (kebetulan) lewat di depan rumah kita pun bisa menjadi sangat penting artinya untuk mewarnai hidup ini. Bahkan orang yang (kebetulan) bertetangga dengan kita pun penting untuk membuat hidup itu tak sekadar hitam-putih belaka 🙂

Memiliki diri sendiri itu perlu, dimana kita harus bisa menyakini diri sendiri betapa bersyukurnya memiliki banyak hal yang tidak dimiliki orang lain. Jika suatu ketika kamu berada jauh dari sanak saudara dan harus memilih sikap mandiri (without any other choices), keadaan menuntutmu untuk menyesuaikan dirimu dengannya (keadaan sekitar), bukan? Situasi yang asing, tidak seperti berada di rumah sendiri, dan sebagainya, tidak dapat dipaksa untuk sesuai dengan apa yang kita ingin rasakan. Jangankan manusia, hewan pun dituntut untuk bersikap sama. Ketika sebuah tanaman yang biasanya membutuhkan cukup banyak air untuk berfotosintesis, sementara saat itu sedang di musim dimana ia menyesuaikan diri dengan menggugurkan daun-daunnya agar tidak begitu banyak air yang harus ia dapatkan untuk bertahan hidup. See? Memang awalnya tidak nyaman, tetapi beginilah cara lingkungan mengajarimu hal berharga : belajar beradaptasi.

Nah, lalu apa hubungannya adaptasi dengan my beloved friend?
Okay people, sit down and learn more
Aku pribadi bersyukur memiliki teman-teman luar biasa dan punya banyak talenta pada diri mereka masing-masing. Ahli berbicara di depan umum, ahli dalam hal administrasi, ahli dalam hal keuangan, ahli dalam hal preparation untuk berbagai macam keperluan, ahli dalam menjalin kerja sama dengan pihak luar, dan banyak ahli lainnya. Aku bersyukur ketika aku harus menuntut ilmu di tempat yang tidak sama dengan temapt sana saudaraku berada, aku dianugerahi kalian oleh-Nya. Aku bisa belajar banyak, bahkan proses adaptasiku berjalan mulus ketika ada kalian. Apa jadinya jika aku sendirian yang harus menghadapinya? Kerja sama tim secara tidak langsung akan tertata dengan kokoh ketika rasa kebersamaan berjuang di perantauan hadir di antara kita semua.
Tapi sayangnya, tidak semua orang merasakan kebahagiaan ini. Justru sebagian di antara sebagian orang yang sebagian lainnya sedang berbahagia ini merasa ingin memiliki “privacy time” almost-all-day-long. Senyaman mungkin, aku ingin merasakan “quality time” seperti orang tuaku ajarkan dan ciptakan. Bagaimana perhatian, kasih sayang, kepedulian, perdamaian, dan senyuman selalu merekah dalam suka maupun duka. Berbagi positif-negatif hal yang kita alami. Secara personal, aku tipe orang yang lebih senang berbagi, walaupun pernah temanku berkata “first-sight-perception” nya terhadapku itu : pendiam [ Gosh, please. Padahal aku yang paling cerewet di dalam keluargaku 😀 ]. Tapi ketika keinginan untuk berbagi itu muncul, kekuatan untuk menjalani hidup lebih berharga itu semakin lebih baik.

So, mohon maaf jika ada yang tidak berkenan dengan “share things” di blog saya ini, “share things” di text-messages, sosmed, ataupun “share things” di ungkapan verbal maupun non-verbal sehari-hari…Aku orang yang senang dan ingin belajar dari lingkungan dan orang lain, jadi jangan ragu untuk mengkritik. Jika ada yang tidak berkenan di hati, jangan kira hal-yang-tidak-berkenan itu akan hilang begitu saja jika disikapi dengan tindakan “hening”, “not-talking“, “aksi mogok”, “anti-sosial”, “menutup celah”, dan sebagainya.

Trust me, you are a part of my daily life. Even you try to avoid me each days as far as you can, I love you like I love my own sister, friend 🙂

Salam persahabatan,

Sahabatmu.