Monthly Archives: November 2012

Menuntut Ilmu: Melakukan Kewajiban atau Menunggu Hak?

 

 

 

Tidak jarang kita menemui dilema kehidupan, apapun itu sisinya. Ekonomi : bimbang antara harus mencari pekerjaan di perkotaan yang banyak peluangnya namun juga banyak pesaingnya, atau mendirikan lapangan pekerjaan sendiri di daerah yang sedikit pesaingnya. Sosial : bimbang antara ingin melakukan suatu tindakan di lingkungan sosial dengan tujuan memenuhi kImageebutuhan pribadi atau memenuhi kesejahteraan bersama (kelompok/masyarakat). Nah, sebagai pelajar yang juga akan menjadi pemeran utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kelak, ada sisi yang pelik dan telak disodorkan kepada kita, para pelajar, sejak dini.PENDIDIKAN. Bagaimana bisa ini menjadi sisi yang ada dalam dilema kehidupan? Mungkin tidak dapat dinalar secara cepat oleh yang mendapatkan pendidikan secara wajar dan mudah-mudah saja, bahkan extraordinary spesialnya dibandingkan teman-teman sebaya lainnya. Pendidikan menjadi dilema yang unik jika kita menyorotnya dari teman-teman kita yang secara ekonomi keluarganya sangat pas-pasan atau justru kekurangan, serta secara sosial sangat jauh dari pusat kegiatan intelektual orang banyak.

Melihat potret mereka yang telah cukup umur untuk memperoleh pendidikan, sangat wajar jika mereka difasilitasi secara cukup baik secara material maupun imaterial. WAJAR 9 TAHUN, Wajib Belajar 9 Tahun, merupakan program pendidikan yang telah lama diberlakukan di negara kita. Pendidikan wajib mulai dari SD hingga SMP ini sangat diwajibkan oleh pihak pemerintah, dengan tujuan agar pemerataan pendidikan di negara Republik Indonesia ini dapat merata dan tingkat pengangguran menurun sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan bangsa. Namun zaman tidak selalu seperti sketsa gambar belaka, teman. Zaman terus berkembang dan pendidikan hingga SMP terasa kurang. Bantuan dari pemerintah telah diberikan, namun mereka belum sepenuhnya terbantu hanya dengan uluran tangan pemerintah demi pendidikan. Puaskah kita sebagai putra bangsa menerima uluran tangan semata? Kesadaran dari putra bangsa itu sendiri sangat dibutuhkan, agar motivasi bangsa lebih kokoh berdiri dengan tegak dan pergerakan dapat berjalan semulus roda yang telah diberikan pelumas baru 🙂

Situasi yang telah dialami sejak awal oleh para pelajar memang kadang dianggap sebagai kodrat hidup mereka. “Ya sudahlah, takdir saya memang sudah begini adanya, dijalani saja..” “Percuma saya belajar tinggi-tinggi kalau nantinya tetap bekerja di sawah…” Begitu banyak suara hati mereka yang berkata

Image

Murid SD meniti kawat baja penghubung jembatan gantung yang rusak parah pada hari pertama sekolah, di Desa Batu Busuk, Kel. Lambung Bukit, Kec. Pauh, Kota Padang, Sumbar, Senin (9/7)

 

pasrah dengan kondisi awalnya. Misalnya seperti saudara-saudara kita yang tinggal agak jauh dari pusat kota, tidak ada kata “tidak” untuk mereka yang ingin belajar. Bahkan pepatah Minang pun mendukung, “Alam takambang jadi guru” (alam terbuka bisa menjadi guru). Bercermin pada alam terbuka hanya dalam beberapa detik pun telah memberikan ilmu berharga untuk kita, apalagi jika diiringi dengan keinginan untuk mendapatkan yang lebih. Lokasi tempat tinggal yang kurang memadai, keadaan perekonomian yang pas-pasan, lingkungan sosial yang kurang mendukung, itu semua hanya cover yang baru kita lihat. Padahal itu hanya keadaan yang terbentuk di dalam keluarganya, ia belum mengemban tugas untuk membentuknya. Bisa saja ia membentuk keadaan yang lebih baik, dan ilmu lah jalan keluarnya. Seperti adik kita pada gambar di samping ini misalnya. Gambar yang didapatkan dari http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1341816937/perjuangan-menuju-sekolah ini menarik perhatian saya. Jembatan yang sedang dilalui si adik pejuang bangsa ini panjangnya sekitar 15 meter, telah rusak hampir sekitar 2 tahun, dan menjadi satu-satunya akses jalan yang dapat dilalui untuk menyeberangi sungai dari rumahnya ke sekolah. Puluhan anak-anak sekolah di kawasan dusun Pintu Gabang, Desa Batu Busuak, Kel. Lambuang Bukik, Kec.Pauah, Kota Padang ini melaluinya setiap pergi dan pulang sekolah. Lihat, semangat menuntut ilmu bisa mengalahkan segalanya,kan? Hanya saja, apa kita hanya akan menatap mereka seperti itu? Let’s move it better, guys…

Jadi, menuntut ilmu itu memang sudah kewajiban kita sebagai penerus kehidupan bangsa, atau justru hak kita sebagai putra bangsa? Renungkanlah, karena kewajiban yang dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab akan membuahkan hasil yang berharga untuk masa depan, daripada bertumpu dagu menanti hak semata 🙂

Ini hanya opini saya, tidak bermaksud mencantumkan pihak lain 🙂

Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina, sabda Rasulullah SAW 🙂

Advertisements
Advertisements