Mengabdi pada kebaikan, asalkan menjadi baik (R.A Kartini’s Day)

“Karena saya yakin sedalam-dalamnya, perempuan dapat menanamkan pengaruh besar ke dalam masyarakat, maka tidak ada sesuatu yang lebih baik dan lebih sungguh-sungguh yang saya inginkan kecuali dididik dalam bidang pengajaran, agar kelak saya dapat mengabdikan diri kepada pendidikan anak-anak perempuan kepala-kepala Bumpiputera. Aduhai, ingin sekali, benar-benar saya ingin mendapat kesempatan memimpin hati anak-anak, membentuk watak, mencerdaskan otak muda, mendidik perempuan untuk masa depan, yang dengan baik akan dapat mengembangkannya dan menyebarkannya lagi.”
Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya

Tidak pernah habis bahasan setiap kali memperbincangkan tentang peran seorang perempuan. Tidak hanya sebagai seorang lawan jenis dari kaum Adam, perempuan punya keistimewaan untuk membuat sesuatu menjadi lebih berharga dari berbagai latar belakang. Entah itu agama, pendidikan, keyakinan atau bahkan keinginan. Perempuan adalah sosok yang menenangkan bahkan dari zaman ke zaman, yang terbelakang hingga terdepan. Kita tidak bisa melupakan pentingnya kehadiran seorang perempuan pada masa penjajahan, dimana perempuan dipandang tidak berperan dalam perkembangan zaman. Ada satu sosok perempuan Indonesia punya semangat juang yang besar di balik pingitan. Perempuan yang dikodratkan untuk berada di belakang, tapi tidak dengan jiwanya. Dia yang berjiwa besar merasa berjalan di lorong yang sempit, tapi punya banyak cara untuk mengalirkan pikiran-pikiran besarnya. Ia menulis surat kepada sahabat-sahabatnya, yang mengungkapkan kegelisahan dan keterbatasan geraknya. Ia mengutarakan keinginannya untuk masa depan bangsanya, bukan untuk dirinya. Dia masih bisa menerima apa yang dikodratkan, tapi tidak untuk meneruskannya kepada anak cucunya.

Itu sedikit pandangan saya tentang seorang pahlawan yang menjunjung tinggi peran perempuan, yang menyadarkan bangsa Indonesia bahwa Indonesia butuh peran perempuan di berbagai bidang. Tidak hanya mengurusi keluarga, namun juga bangsa. Saya pribadi berharap dapat menjadi salah satu wujud mimpi Ibu Kartini, terlepas dari keberagaman agama, pendidikan, budaya dan sebagainya. Perempuan itu istimewa.

Pernah suatu ketika saya berbincang-bincang dengan seorang pendidik di sebuah perjalanan menuju pulang. Kami tidak bertatapan muka tapi kami bersahut-sahutan. Jarak usia kami cukup jauh, tapi kesan pertama saya terhadap beliau tertuju pada kesuksesannya di bidang karirnya, yaitu pendidikan. Beliau adalah seorang pendidik yang pada saat itu menceritakan tempat-tempat yang pernah ia singgahi untuk menebarkan ilmunya. Ia juga menceritakan kota-kota yang pernah ia kunjungi dan ia lihat perkembangan pendidikannya. Saya tertarik, dan kami berbincang cukup lama sampai akhirnya hampir tiba di rumah. Di dalam perjalanan itu saya bertanya tentang bagaimana perkembangan adik-adik sekolah saat ini, dan saya pun berbagi cerita bagaimana pengalaman saya selama menjadi seorang pelajar. Saya punya pengalaman sedikit berbeda karena harus berjuang mendapatkan pendidikan lebih lanjut di kota lain. Pernah mengalami hambatan karena faktor luar daerah. Memang mungkin belum semua orang paham bahwa pendidikan itu sama rata nya. Pendidikan itu disebarkan secara merata tanpa memandang pulau dan suku manapun. Ketika itu saya pernah dipandang rendah karena berasal dari daerah, bahkan daerah di luar pulau. Saya masih menganggap wajar ketika respon orang lain jika cenderung pada hasil akhir yang saya dapatkan. Tetapi berbeda dengan beliau yang menanggapi dengan sudut pandang yang berbeda. Kurang lebih beliau mengatakan seperti ini :

‘Sebenarnya orang-orang di pulau itu pendidikan nya juga tidak semuanya bagus. Kalau dilihat dari rata-rata per kota atau provinsi, mungkin memang bisa dilihat keunggulannya tetapi dalam satu kota tidak semuanya juga bagus. Saya pernah ke kota itu dan kebetulan saya ke sekolah yang biasa saja. Malah prestasi anak-anak kita di kota kita jauh lebih tinggi daripada mereka. Cuma mereka terlalu sombong saja dengan perkembangan kotanya. Itu saja. Bahkan coba kita lihat ke belakang pemimpin-pemimpin yang menginisiasi proklamasi itu siapa?! Orang-orang yang berasal dari daerah kita. Kebanyakan beliau-beliau itu cerdas, pintar. Mereka yang jadi kunci dari keberhasilan kemerdekaan Indonesia ini. Sementara orang-orang mereka hanya menjalankannya saja. Dulu ituΒ  orang-orang sana justru menjadi bawahan, suruhan dan sebagainya. Bahkan kalau ditilik lagi ke belakang masih harus dipertanyakan mengapa Kartini itu bisa menjadi pahlawan. Padahal ia hanya menulis surat, dia tidak melakukan apa-apa untuk bangsanya. Sama seperti kita membuat diari. Ya sudah, apa coba istimewanya? Dan kemudian dia menjadi pahlawan.’

Kurang lebih itu inti pembicaraannya yang masih terngiang-ngiang di kepala saya karena betapa tidak menerimanya saya dengan statement beliau. Beliau, yang perlu digarisbawahi, adalah seorang “pendidik”, beliau berbangga bangga dengan track’recordnya di dunia pendidikan. Spontan merespon pengalaman orang lain dengan menyinggung peran seorang pahlawan. Layaknya ia telah menjadi pahlawan yang lebih hebat dalam memajukan bangsa. Layaknya ia telah berperan besar dalam mendidik bangsa. Kontras sekali dengan kutipan pada salah satu surat Ibu Kartini kepada sahabatnya : “Tidak menjadi soal bagaimana caranya mengabdi kepada kebaikan, asalkan baik saja.” Maaf, Bapak, tapi kali ini apresiasi saya yang tinggi sebelumnya melejit turun karena respon spontan bapak yang tidak Senada dengan harapan Ibu Kartini. Pun pahlawan-pahlawan yang tadinya Bapak puji bisa merasa kecewa juga, jika beliau-beliau mendengarnya. Bagaimana hendak mengabdi pada kebaikan jika tidak bisa menjadi baik :”)

Selamat Hari Kartini. Semoga kita menjadi pewujud mimpi Ibu Kartini yang tulus mengabdi dalam kebaikan. Aamiin.

 

21042018. Bersama memori yang terseret angin lama.

Advertisements

Sympathy

Tidak banyak yang paham dengan apa yang orang lain alami. Simpati tidak cukup untuk merasakan kejadian yang orang lain rasakan. Bukan berarti tidak dibutuhkan, tetapi dalam bersimpati ada batasnya. Walau bagaimanapun, simpati masih lebih baik daripada diam. Tapi diam jauh lebih baik daripada merespon dengan tidak pantas, dalam bentuk kata-kata atau sikap.

Mungkin orang-orang yang “terjatuh” dan menerima simpati dari orang lain sering berkata “You don’t know what I feel. Saya sudah melakukan berbagai macam cara dan gagal. Saya sudah melewati banyak jalan dan gagal. Saya sudah bersabar dan gagal.” Kalimat-kalimat negatif ini selalu muncul setiap kali rasa menyerah menghampiri.

Untuk kamu yang melewati perjalanan hidup dengan mulus, how lucky you are. Kemudahan mengiri langkahmu. Tapi jangan berjalan tanpa melihat jalan. Walaupun jalanan mulus, langkahmu bisa saja terhenti. Tersandung kerikil, terinjak kotoran, terperosok ke lubang jalanan, tersenggol kendaraan, tertabrak mobil, dan hal tiba-tiba lainnya.

Untuk kamu yang mendapati kendala akibat kelalaianmu, how lucky you are. Belajarlah untuk berlaku tidak serupa. Ingat kata orang banyak? “pengalaman adalah guru terbaik.” Jika di langkah selanjutnya hambatanmu sama, bukan lagi karena kurangnya pengalaman. Tapi karena kurangnya keinginan belajar.

Untuk kamu yang punya kekurangan, how lucky you are. Kamu punya kesempatan untuk mempelajari keadaan yang tidak semua orang alami. Kamu bisa menyikapi situasi dari berbagai sisi : dengan dan tanpa kekurangan. Disinilah momen “simpati” lahir, yaitu di saat dirimu berhasil melewati situasi dengan dua sisi tersebut, dan nanti tahu yang orang lain rasakan ketika mendapati kekurangan yang sama. Aku tidak bermaksud angkuh, tapi aku diberi kesempatan merasakan fase ini. Rasanya ……… indah. I’ll share it some other time. Try it, maybe we can share each other πŸ™‚

Darimana datangnya celoteh ini? Dari rasa syukurku kemarin hari, dipertemukan dengan dua sosok yang banyak mengingatkanku dengan fase yang lebih berat daripada hari ini. Jangan ukur perjalananku dengan pengukur yang sama dengan mereka. Aku punya perjalanan panjang, yang pengukurnya hanya Ia yang punya πŸ™‚

Salam, Saya.

Pada Selasa yang tertunda.170118

Gila Indah

Aku penggila kata-kata indah,
yang tiba-tiba terpana dengan sentuhan bahasa yang datang entah darimana. Kadang mata ini bisa saja menemukan sumber keindahan itu, lalu berkaca-kaca. Telinga pun berkonspirasi, bisa saja ia mendengarkan hal yang mampu meneteskan embun ke kalbu yang jauh letaknya.
Tadinya kukira ini yang dikatakan picisan. Yang orang bilang jangan termakan oleh rayuan manis belaka. Yang ditakutkan orang tentang mulut yang tak seirama dengan perbuatan. Tapi aku percaya, yang namanya bahagia datangnya dari hal yang indah, walaupun kadang mendapatkannya tidak mudah atau sesempurna kisah fiktif.
Seperti ingin menorehkan emosi di atas kanvas, jemari pun tak punya rasa malu ingin berkata sama. Entah sampai rasa yang dituangkan ke dalam kata-kata ciptaan diri, tapi kuyakin akan indah pada masanya.

Aku penggila kata-kata indah,
yang mungkin lama-lama orang bosan membaca bongkahan-bongkahan itu. Seakan melihat langit yang kelabu seminggu penuh, atau alas meja yang itu-itu saja hingga sewindu lamanya.
Tapi aku bahagia. Ia tidak terkungkung terlalu lama di benak dan rasa. Merangkai kata seperti melepaskan yang terikat kuat, seakan membiarkan anak berjalan tanpa dipapah, atau layaknya menerbangkan anak burung yang tadinya patah sebelah sayapnya.

Aku penggila kata-kata indah,
Ketika berjumpa dengan yang serupa, siapa yang tak gembira hatinya. Ketika menemukan rasa yang sama, siapa yang tak tenang tidurnya. Ketika ada yang jalan beriringan, siapa yang tak merasa ringan langkah kakinya.
Maka kujumpai untaian pujaan pada Sang Khaliq di setiap kata-kata indahnya. Yang menciptakan isi langit dan bumi, mulai semilir angin senja hingga laut yang tak terkira luasnya. Yang menciptakan makhluk sekecil semut hingga makhluk seberuntung manusia.
Dan perjumpaan pada masa mendatang pun hadir di balik keindahan kata-kata yang terangkai elok. Entah akan menjadi benar adanya, entah tak sempat menjadi nyata, semua harapan sudah berkumpul. Jika tak sampai waktu menjadi lakon bersama, paling tidak sudah kutanamkan bahagia disana. Jika habis masa menginjakkan kaki di tanah, rindu sudah lebih dahulu sampai untuk masa depan. Bersama rumah, perjalanan hingga dua cangkir kopi di setiap paginya.

Aku penggila kata-kata indah,
Para pelaku seni itu sebenarnya berteriak keras luar biasa. Ada raung tangis di dalam karyanya, ada sorak sorai di setiap torehan kuasnya, ada kasih yang terlalu murah untuk diutarakan di setiap kata-kata indahnya. Dan ada rasa syukur, di setiap luapan emosinya.

Salam,
Saya

Selasa bersama tapi terasa beda. 121217

Kadar Bahagia Seorang Penikmat Perjalanan (1)

Tampaknya celotehan orang bijak banyak benarnya. Mereka berujar perjalanan memberikan banyak buah tangan, sekalipun tidak membawa bekal sejak berpamitan pergi.

Sedari kecil mainset anak-anak pada umumnya ingin menjalani profesi yang umumnya dikenal dari sumber rejeki orang tua, keluarga atau kerabat di lingkungan sekitarnya. Belum ada ide-ide liar yang beterbangan di benak si kecil untuk setiap masa dewasa yang akan ia lalui, hingga pada akhirnya berjumpa dengan rasa nyaman pada satu titik, dimanapun itu. Mereka yang berkesempatan mendapatkan ide liar ini menemukan rasa nyamannya, untuk berkembang menjadi individu yang lebih baik lagi, bukan dari balik meja kerja, berlindung dari helm proyek pembangunan atau bersahabat dengan jas putih.
Mereka menggunakan pakaian ternyamannya, bersama tas yang lengkap dengan paket siaga hujan-panas serta keadaan darurat yang masuk akal akan ditemui esok hari, lusa, dan esoknya lagi. Adalah orang-orang yang punya segudang alasan, mengapa lebih menuruti rasa penasaran kesana-kemari daripada menunggu yang tak pasti atau hal mainstream terjadi.
Tidak, perjalananku belum sejauh pelaku ekspedisi yang punya misi besar, pun belum sehebat petualang yang nekadnya luar biasa dan tak punya rasa takut dengan gelapnya hutan dan dalamnya lautan. Aku punya segudang kekhawatiran dan banyak keinginan. Aku punya ketakutan yang tidak jarang mengurungkan kayuh untuk membawa perahu terbawa arus. Aku punya kegagalan yang tidak sedikit di setiap persinggahan, yang aku lebih memilih mengumpulkannya ke ruang kosong motivasi daripada membuangnya ke alam bawah sadar dan menjadi duri yang menusuk-nusuk dari dalam.
Maka dari segala kerumitan itu, pandangan sempit tak membantu sama sekali. Langkah kaki tetap saja digerakkan sekalipun duri di telapak kaki tidak menjanjikan jalanan yang mulus, hujan tidak menjanjikan tempat berteduh, dan tempat tujuan belum tentu memberikan bongkahan yang dicari. Bekalku tak banyak. Rasa penasaran. Restu orang tua. Dan harapan. Maka berangkatlah.
Tidak ada rencana dan persiapan untuk setiap perjalanan yang kulalui. Melangitkan doa dan membumikan perilaku, banyak pesan dan rezeki yang Tuhan titipkan, dari tangan ke tangan, dari mulut ke mulut. Siapa sangka rasa syukur akan bertambah dari seorang supir angkutan antar kota, seorang tukang sol sepatu, bahkan seorang anak penjual makanan ringan di SPBU. Dan siapa sangka, ternyata kali ini aku sedang menjalani sesuatu yang jauh lebih penting daripada mengisi kantong sendiri dan menjaring kolega dengan skill pribadi. (to be continued)
.
.
Rumah, salah satu Selasa, November Rain, 2017
Salam,

Saya.

Jam Gadang Terletak di Kota …… ?

Masih ada yang jawab : PADANG ?!

Huft. Mungkin rekan-rekan yang lain, khususnya yang punya ikatan batin dengan kota-nya Jam Gadang, sering mengoreksi jawaban itu. Capek juga ya guys, hahahaa..

Kebanyakan yang menjawab begitu adalah orang-orang yang lahir dan berkembang di luar Sumatera Barat, atau beberapa di antaranya di luar pulau Sumatera. Dari orang-orang yang saya koreksi jawabannya (kesannya udah banyak banget ya, hahahaa.. tapi ya emang banyak), mindset mereka adalah : seluruh wilayah di Sumatera Barat (SumBar) beserta segala detilnya itu adalah Padang. Orang yang asalnya dari SumBar berarti dia Orang Padang. Bahasa daerahnya (Bahasa Minang) adalah Bahasa Padang. Makanan khas daerahnya, Makanan khas Padang (padahal tiap daerah di SumBar ada makanan khasnya masing-masing sesuai dengan hasil alamnya). Pakaian daerahnya (yang setiap daerah juga ada khasnya masing-masing) disebut Pakaian adat Padang. Duh duh duh =’D

Memang tidak diharuskan menghafal semua kekhasan di sub-sub-daerahnya, tapi paling tidak orang-orang non-Padang akan lebih merasa dihargai dengan sebutan nama propinsinya (Sumatera Barat) atau kalau kepanjangan rasanya terdengar fair dengan menyebut”Minang”. Minang, atau Minangkabau, terdaftar sebagai salah satu suku di Indonesia yang terletak di Sumatera Barat dan sekitarnya. Kalau di dalam pelajaran anak sekolah di Minang (ga Padang doang lo ya, hehee), yaitu muatan lokal Budaya Alam Minangkabau (BAM), ranah atau wilayah Minangkabau itu bukan hanya Sumatera Barat, tapi juga daerah-daerah di sekitarnya. Beberapa daerah di luar propinsi SumBar tapi lokasinya dekat sekali dengan SumBar, seiring waktu dihuni oleh orang Minangkabau dari SumBar sebagai wilayah rantau. Nah, makin pusing kan… jadi Minang itu ga cuma di SumBar doang, apalagi di Padang doang πŸ˜…

Saya termasuk salah satu orang yang punya ikatan batin dengan Sumatera Barat. Lahir dan menikmati masa perkembangan sampai awal remaja di kota yang ada Jam Gadang-nya. Yes, BUKITTINGGI. Itu dia jawaban dari judul di atas tadi. Jadi yang jawab PADANG nilainya 0 yaa πŸ˜„ Ketika pindah sekolah ke kota-nya Gudeg (kalo ini masih ada yang salah ga jawabannya? –“), setiap kenalan, saat jam pelajaran ataupun saat berbincang-bincang dengan guru, teman, atau orang-orang baru di sekitar, saya maklum kalau ga semuanya paham dimana letak Bukittinggi itu, ada yang belum pernah dengar juga (masih batas wajarlah kalau anak SMP belum tahu kota-kota selain ibukota propinsi). Mungkin beberapa yang tahu (selain orang Minang) adalah perantau dari pulau Sumatera, orang yanh punya relasi asal SumBar, atau yang suka ngebolang. Jadi setiap ditanya “asalnya dari mana?” saya lebih memilih jawaban Sumatera Barat. Bahkan jawabannya masih dipakai sampai sekarang (asalkan pertanyaannya bukan “asli mana?” Hahahaa, beda lho ya). Dan, kebanyakan orang akan merespon “Ooh, orang Padang ya Mbak.” Hmmmmm πŸ˜‚ Sewaktu SMP saya masih belum terima, selalu saya timpali dengan jawaban yang benar. “Bukan, Padang itu ibukota SumBar. Saya di Bukittinggi nya. Sekitar 2jam an dari Padang,” kurang lebih begitu. Kadang masih saja dijawab “Ah, kan dekat, masih bisa dibilang termasuk Padang kok itu.” -___- Kemudian di rumah saya ngomel-ngomel, story telling kalo tadi ada yang bilang saya dari Padang. “Orang dari Bukittinggi kok dibilang dari Padang. Jauhlah..” Hahaa.. jiwa anak pubertas yang masih tinggi egonya dan belum bisa menerima mindset orang luar SumBar. Ditambah lagi kelekatan dengan Bukittinggi masih belum sepenuhnya hilang (kalo anak jaman sekarang bilangnya susah move on). Dialek, walaupun di rumah sejak kecil berbahasa Indonesia, juga masih kental Minang nya. Kadang juga masih ada beberapa istilah yang sulit dibahasaIndonesiakan. Oke, yang ini kita bahas besok-besok deh ya :))

Jadi intinya… ini salah satu curhatan dari salah satu orang yang punya relationship dengan ranah Minang. Kadang masih aja suka gemes liat orang-orang berkunjung ke lokasi-lokasi kece di SumBar, tapi statement nya @ Padang. Lagi di Istano Baso Pagaruyuang, bilangnya di Padang. Lagi di Maninjau, locationnya di Padang. Lagi selfie di depan Jam Gadang, Ngarai Sianok, Gunung Marapi-Singgalang, Lembah Anai, Lembah Harau, tetep aja di Padang. Kalau Sumatera Barat, masih included lah. Tapi sekali lagi semoga kita bisa sama-sama belajar untuk menjadi pengguna social media yang smart dan cermat.

Okay, kurang lebihnya saya mohon maaf πŸ™‚ Wassalamu’alaikum…

Salam,

Saya

12092017. Hayati nan taragak jo ranah Minang πŸ˜€

Tagged , , , , ,

Perantau Berbicara

Tumbuh dan berkembang di tanah rantau adalah pilihan masing-masing orang, termasuk saya. Ada banyak alasan orang memilih tempat selain kampung halamannya, dan ada banyak pula masanya. Ada yang mengikuti keluarganya, ada yang ingin kuliah di kampus idamannya, ada yang mendapatkan penempatan kerja di kota lain, ada yang sengaja datang ke kota lain mencari pekerjaan, ada yang mengikuti suami/isterinya agar tidak lelah oleh efek LDR. Masih banyak alasan lain, dengan waktu-waktu yang berbeda.

Seketika menapakkan kaki di rantau untuk waktu yang lama, skill adaptasi harus dikembangkan. Kita akan berjumpa dengan gaya hidup orang sekitar yang berbeda, dialek bahasa yang tidak sama, bahkan nasi dan lauk yang rasanya sama jauhnya dengan jarak ke rumah.

Tidak hanya itu, bahkan untuk kebiasaan masyarakat sekitar pun harus lebih mengamati. Cara warga setempat mempersiapkan pernikahan, menyambut Maulid Nabi, bahkan cara berdiskusi dalam satu kelompok (ada yang langsung to the point, ada yang harus izin ke orang yang lebih tua dulu, ada yang harus menunggu acc orang yang lebih expert dulu, dll).

Percayalah, kami para perantau adalah orang-orang yang akrab dengan rindu πŸ™‚

Berjumpa orang yang berdaerah asal pun jarang dialami. Jika pada masa yang tidak diperkirakan dipertemukan, giranglah hati menyambutnya. Apalagi jika di dalam satu tim ketja, satu organisasi, atau satu area tempat tinggal. Bahasa universal spontan berubah menjadi bahasa daerah. Saling mengenal daerah asal, lebih heboh lagi kalau asal daerahnya sama. Tua-muda, laki-laki-perempuan, tidak jadi masalah untuk sebuah kebahagiaan kecil seperti itu. Gelembung-gelembung rindu pada rumah menari-nari di sekitar kita.

Pun tidak berjumpa untuk jangka panjang, paling tidak terlepas sedikit ikatan rindu. Pernah suatu kali saya menumpang di salah satu mobil jasa transportasi online. Saya tergolong penumpang yang “manut” driver, jika ia tak banyak merespon, saya tidak akan melanjutkan. Mungkin beliau tipe driver yang konsentrasi ketika menyetir mobil. Tetapi ada juga yang lebih senang diajak ngobrol supaya tidak cepat bosan dan mengantuk.

Kebetulan bapak yang satu ini lebih komunikatif. Ketika melewati sebuah rumah berbentuk rumah gadang (rumah adat khas Minang) yang menarik perhatian, beliau menanyakan saya,

Driver : “Adek tau ga ini rumahnya siapa? Rumahnya bagus banget. Adem liatnya.”

Saya : “Wah, kurang tau, Pak. Iya saya juga sering jalan lewat sini, enak diliatin. Ada rumah gadangnya.”

D : (mikir) “Loh adek aslinya mana? ”

S : (ughh.. that question. The hardest question ever in my life) Mmm saya tinggalnya di Jogja Pak.”

D : “Asli Jogja? Orang tua orang sana?”

S : “Oh engga Pak. Saya lahirnya di Sumatera Barat”

D : (seriously, si Bapak langsung girang) “oooh urang awak juo ma! Apak dari Solok. Adiak dima kampuang? ” [ooh ternyata kita sekampung. Bapak dari Solok. Adek kampungnya dimana?]

S : “Loh?” (heran-heran. Dialek bapaknya sama sekali bukan dialek Minang) “Awak di Bukittinggi Pak.”

D : “Hoo.. iyo bana urang awak ma yo.. tadi apak ragu, namonyo bantuak-bantuak urang Timur (hahahaa si Bapak mah), logatnyo lah Sunda-Sunda lo kan. Ndeh batamu rang sakampuang wak kironyo.. ” [Hoo.. wah ternyata beneran orang sekampung nih. Tadi Bapak ragu, nama adek mirip orang Timur, logatnya juga udah Sunda-Sunda gitu. Ya ampun ternyata ketemu sama orang sekampung..]

Begitulah chitchat awal kami. Yang sama-sama heran dengan dialek masing-masing. To be honest, entah karena sudah cukup lama di rantau atau karena lebih adaptif, cara berbahasa kami (saya dan si Bapak Driver sepakat) langsung menyesuaikan tempat kami berada. Tidak melupakan bahasa daerah, hanya menambah wawasan berbahasa. And somehow I’m proud of that. Bukan cuma saya yang begini, tapi juga perantau-perantau lainnya. Dan as you all know, orang Minang “doyan” merantau…

Perbincangan kami lebih banyak membahas tentang pergelutan kehidupan perantau. Pastinya beliau lebih berpengalaman, apalah saya yang baru hitungan belasan tahun. Beliau pun mengakui, serindu-rindunya dengan kampung, paling lama hanya bisa menikmati 2 minggu disana. Kadang belum puas, masih banyak memori lama yang belum dijemput, masih banyak spot dan habit lama yang belum dikenalkan kepada anak-anak. Tapi tanggung jawab tidak bisa dikesampingkan hanya karena ingin menuruti ego.

Dan betul, perantau tidak pernah puas untuk menikmati tanah asal. Tapi harus bisa menahan, supaya perjalanan tidak selalu di tempat, tapi bergerak. Ke depan, bukan ke belakang. Percayalah, kami para perantau adalah orang-orang yang akrab dengan rindu πŸ™‚

Salam,

Saya

29082017. Bersama rindu dan perjalanan.

Meja Runding

Rasanya akan sangat damai memiliki sebuah ruangan lepas di belakang rumah, bertanamkan pohon rindang menyejukkan. Bersanding pula dua kursi taman dari kayu pohon kelapa. Warnanya coklat tua, serasi dengan warna tembok yang divisualisasikan dengan warna alam. Ah amboi!


Terhidang di antaranya dua cangkir kopi di atas meja berbahan serupa dengan sepasang kursi tadi. Tak payah membentuk kayu cantik itu menjadi meja ini, kupikir. Ia hanya berbentuk persegi panjang, berkaki empat, dan sedikit celah di bawah meja tempat buku, majalah, dan buku gambar anak-anak diletakkan agar tak basah jika kopi tumpah ruah. Tidak seperti kursi, meja kotak itu telah ada lebih dulu, didesain khusus oleh ayah sang perempuan pada masa belum ada tuan yang datang menjemputnya.

Meja unik yang berdiri semampai di balkon belakang rumah itu akan menjadi saksi berbagai warna yang hadir di dalam keluarga itu nanti, seperti juga di hari-hari kemarin. Bahkan ia menyaksikan sebuah kursi panjang tambahan hadir di depannya, karena anggota keluarga yang bertambah seiring waktu dan butuh lebih banyak ruang untuk berguru. Jika ia seorang anak bumi, akan berbesar hati ia menyaksikan semakin banyak kegiatan yang tercipta di sudut ruang favorit keluarga itu. Apalagi atas dasar bahagia.

Jauh sebelum keluarga ini berisik dengan riuh tawa yang renyah dari para bocah, meja itu telah difungsikan untuk banyak momen. Ketika tamu keluarga datang, meja ini terisi penuh dengan hidangan lezat buatan tangan para ibu. Ketika dilanda suatu masalah, sang ayah memberitahukan putusan, di meja ini. Ketika si anak hendak merundingkan rencananya melanjutkan pendidikan, ayah dan ibu mendengarkan sambil menyimak gambaran masa depan anaknya di atas meja ini. Bahkan ketika akhirnya seorang tuan pemberani yang telah memenuhi perbekalannya datang ke rumah untuk mencalonkan diri menjadi pemimpin hidup si gadis, pun dirundingkan di meja ini, mulai dari kata hati si anak hingga rincian daftar undangan resepsi. Banyak cerita hidup di atas meja ini, runding ini-itu agar menyatu.

Di rumah baru, sang meja kembali memainkan perannya. Kali ini dengan dua kursi tunggal dan satu kursi panjang, bersama keluarga muda. Suka duka hadir disini, menciptakan warna khas keluarga inti. Mulai dari memberanikan diri menyatakan perasaan cinta dan tidak suka, hingga mengalah ketika ego terlalu keras. Pasangan muda akan punya rasa egois yang masih segar, tuntutan perfeksionisme yang tinggi, belum lagi tuntutan kewajiban sebagai suami/isteri dan orang tua. Disanalah indahnya berkomunikasi. Saling bercerita tentang kegundahan. Meluruhkan kerasnya hati dan mencairkan pikiran yang buntu. Dengan suasana damai di balkon belakang rumah ini, semua ion-ion negatif itu dapat tereduksi dan kembali merekah senyum.

Saat anggota tim keluarga bertambah pun, spot rumah di bagian itu masih menjadi andalan. Tangis si bayi seketika hilang ketika ia hening dan mendengar gesekan-gesekan daun disana. Dibuai-buai di kursi belakang, ditontonkan mainan lucu di meja sana. Keluarga yang mampir pun dapat menyaksikan si bocah belajar berjalan di rumput taman sambil menyantap cemilan ubi goreng dan teh hangat. Yang tua memberi saran tentang cara merawat anak pada si ibu muda, juga cara merawat tanaman dan perabotan pada si ayah muda. Jika saja silaturahmi itu sirna, tak ada komunikasi. Apalagi solusi.


Sekali lagi, komunikasi, menjadi keindahan dari sebuah permasalahan. Jika menjanggal, tanyakan. Jika tak senang, katakan.

Walau tak semua tanya datang beserta jawab,

dan tak semua harap terpenuhi.

Ketika bicara juga sesulit diam,

utarakan, utarakan, utarakan...

(Banda Neira-Utarakan)

Selamat berunding!

Created on Tue, 22082017.di balik awan angan dan harapan.

Pencipta Senyum Pagi Itu

Udara dingin di pagi hari membuat selimut menjadi pilihan yang lebih baik untuk berteman. Tapi ada tanggungan yang membuatku harus menolak pertemanan selimut di pagi berkabut itu. Ada kewajiban yang harus dipenuhi, dengan tampilan kata-kata baku dan analisis di dalamnya. Pagi itu harus segera kuselesaikan, agar lepas pula tanggung jawabku untuk bagian ini, dan puas pula diriku menikmati akhir pekan nanti.
Kala itu, aku sedang di tanah kelahiran. Sebuah kota di dataran tinggi, yang tidak jarang menghadirkan udara pagi yang smoky dan syahdu. Dedaunan dan bunga-bungaan disana pun puas menyeruput embun alami. Dulu ketika masih sekolah, sering aku berangkat dengan bibir yang membiru kedinginan, sampai sinar matahari mulai mampir menghangatkan bumi di bagian sana. Yang pasti, pagi hari selalu menjadi indah, sejuk dan mempesona.
Karena tanggungan tadi, aku harus berjuang mendapatkan sinyal yang lancar untuk sebuah email, bahkan hingga harus duduk bersila di teras depan. Ketikan dan nada lagu dari laptop memecahkan kesunyian di jalan depan rumah. Sesekali ada langkah, tapi tak menyadari ada sosokku di balik bougenville yang perkasa. Masih pagi, maka aku juga harus memilih playlist yang indah, sejuk dan mempesona. Banda Neira, idaman bagi ketenangan jiwaku, dimainkan dengan rindu.
Sampai akhirnya, salah satu lagunya menjadi latar belakang suara sebuah momen epik. Di depan rumahku ada sebuah keluarga kecil yang banyak. Dengan empat orang anak, suami isteri tersebut menjadi teamwork yang kompak. Dua orang sudah bersekolah, sedang senang-senangnya dengan teman sebaya dan riuh tawa. Satu orang balita, anak laki-laki tampan menggemaskan dan murah sapa. Dan satu lainnya masih bayi, masih butuh perhatian dan pelukan dari orang tua. Mereka tumbuh dengan perkembangan spiritual yang baik pula, menjadikan sosok rumah terlihat menenangkan.
Pagi itu dua orang kakak sudah berseragam, siap diantarkan sang ayah hingga ke sekolah. Mendengar bunyi sepeda motor dinyalakan, si adik balita langsung terbangun dan berlari ke pintu depan rumah. Anak balita pada umumnya akan merengek-rengek ingin ikut pergi, berbeda dengan si bocah ini. Ia bergegas ingin menyaksikan kakak-kakaknya berangkat sekolah ditemani oleh ayah yang baginya adalah seorang superhero. Padahal hanya pergi barang sebentar, ia tidak ingin melewatkan ucapan salam dan cium tangan pada ayah dan kakak-kakaknya. Duh, nak. Si tampan bermuka bantal, yang masih belum sempat mencuci wajah tidurnya, semakin lucu melelehkan hati calon-calon ibu.

1501647925145

Kakak-kakaknya sudah siaga di depan pagar. Si tampan hanya melihat dari teras rumah, melambai-lambaikan tangan melepas kakaknya pergi menuntut ilmu. Sang ayah pun tak ingin membuatnya kecewa, maka klakson motor pun dibunyikan untuknya. “Daah, Nak.” Begitu saja, ia sudah bahagia. Ditebarkannya senyum kecil berhiaskan gigi susu. Berharap ayah mendengarkan semangatnya yang antusias, si tampan membalasnya dengan lambaian tangan yang kencang, “Dadah, ayah.. Dadah, ayah…Dadah, ayah.. ” sampai suara motor sang ayah tidak lagi terdengar dari rumah.
Begitu saja, sudah membuat senyumku tidak menghilang beberapa saat. Sumringah menyaksikan momen itu di depan mata. Si tampan sudah menciptakan senyum seorang aku pagi itu. Sekelebat mengusik konsentrasiku memang. Kata-kata yang kuketik dari keyboard laptop menjadi berantakan, tapi ini penting untuk disaksikan, pikirku. Ditambah lagi dengan buaian Sampai Jadi Debu, sukses menjadikan momen itu sebagai pengingat rindu yang syahdu. Terbayang, suatu masa akan muncul pula senyum seperti ini tercipta oleh malaikat-malaikat kecilku, setiap pagiku, bersama penuntunku ke jannah-Mu. πŸ™‚

 

 

Salam,

Saya

01082017. Looking back to the days at hometown ❀

Senjaku, Tak Pernah Layu

Seminggu tak berjumpa dengan rutinitas rutin (baca : menulis), rindu. Terhalangi oleh perjalanan, penyesuaian rutinitas harian, dan penugasan kerja yang harus dipenuhi via jarak jauh. Ada banyak cerita, akan segera kuceritakan, menebus absen beberapa lembar yang lalu. Tapi sekarang sedang ingin flashback.

 

Kembali merasakan malam Ramadhan di kamar yang sama seperti 11 tahun yang lalu, siapa yang tak rindu? Begitu membuka pintu kamar, semua memori yang tertampung disini seperti merangkulku dengan hangat, menghilangkan rasa dingin di kaki. Memori menegakkan shalat di kala adzan yang terdengar dari masjid yang kejauhannya hanya berjarak dua rumah dari rumah. Memori ketika akan tidur berpamitan kepada ayah ibu, yang tidak pernah absen menorehkan ciuman ke pipi beliau berdua. Memori yang begitu menyenangkan berada di depan meja belajar, bahkan ketika liburan usai tidak ingin lepas dari apapun yang ada disana. Memori ketika tidur bersama nenek, tangan beliau selalu berada di sebelah kepala mungilku, seringkali kugenggam hingga terlelap pulas. Bahkan, memori ketika kesal dengan mbak yang mengambil buku tulis baru hadiah dari sekolah, dan menjadi momen yang paling teringat ketika itu ayah marah yang tidak ingin sifat pelit itu menggerogoti anak gadisnya =”D

 

Tidak pernah tidak bersyukur dengan semua yang dijalani hingga detik ini. Dengan perjalanan panjang sejauh itu, ketika ditarik ke titik di masa itu, terasa begitu cepat. Tiba2 sekarang usiaku sudah sebanyak ini, kota yang sudah kudatangi sendiri sudah sebanyak sekarang ini, padahal dulu mana pernah menyangka bisa hidup mandiri jauh dari ibu dan ayah. Tidak menyangka sudah banyak orang yang aku temui, banyak kasih yang aku dapatkan, banyak pula rindu yang aku titipkan. Tidak menyangka sudah sebanyak ini ilmu yang aku tampung walaupun masih banyak yang belum aku tahu dan ingin aku dapatkan. Tidak sekalipun memungkiri rasa syukurku, sepahit dan sesakit apapun yang pernah dialami, masih lebih banyak manis yang kupetik ❀

1497979774488

Dan sekarang, baru mulai bisa melihat dari kacamata dewasa, mungkin seperti yang ayah dan ibu gunakan saat itu. “Oh ternyata ini maksudnya, ayah ngajarin ini, ibu ngajarin itu.”

Berpikir dan berharap ke depannya, semoga hal-hal bijak seperti ini bisa dirasakan generasi selanjutnya, sebelum terlambat, sebelum ombak membuainya ke tengah dan tenggelam ke dalam lautan kelalaian =”|

 

 

Salam,

Saya

20062017, in my own bedroom with blanket and jacket.

Aku dan Baby

[R11th]

Sebenarnya topik yang disiapkan bukan ini, tapi mumpung sekarang (pas lagi nulis ini) masih merasakan euforia-nya, yaudah sharing ini dulu aja. Lumayan buat belajar, hihii..

 

It’s happened just a few hours ago, di saat momen shalat berjama’ah sedang berlangsung di pelataran perumahan. Bulan Ramadhan selalu punya hal yang beda daripada bulan-bulan lainnya, ada kebiasaan yang dijalankan sebulan penuh, tidak seperti bulan-bulan lainnya. Berpuasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari, memperbanyak tadarus, sahur dan berbuka bersama keluarga dan kerabat, hingga shalat malam (tarwih) berjama’ah.

Sebuah hadist menyebutkan bahwa seorang perempuan disunahkan shalat di rumah daripada di masjid. Tetapi saya juga mempelajari hadist lainnya, (maaf saya lupa bunyinya) yang kurang lebih menyatakan bahwa jika shalat di rumah lebih banyak menyebabkan shalatnya tertunda (malah kemudian mengerjakan hal lainnya) dan shalat di masjid lebih menjadikannya shalat dengan lebih baik, dibolehkan. Wallahua’lam #CMIIW

Saya, yang ternyata merasakan hal itu (sering tertunda shalatnya kalau di rumah daripada di masjid), pun melangkahkan kaki ke tempat shalat berjama’ah. Fyi, di shaf perempuan saya anak muda tertua di perumahan πŸ˜‚ Yang lainnya ibu-ibu, anak-anak sekolahan sampai dengan balita. Anak muda lainnya hanya tetangga seberang rumah saya, berjarak 2-3tahun lebih muda.

 

Dan shalat Isya pun dimulai ketika sudah mulai banyak warga perumahan memadati pelataran/balai. Tidak seperti biasanya, ada seorang baby gemassh berkeliaran dari ujung shaf ke ujung lainnya (sambil ngesot; bergaya seperti berjalan dengan papan yang berjalan jika tangan didayungkan ke lantai :D). Awalnya dia aktif sekali mondar-mandir, dan ketika ruku’ raka’at pertama, HOOP!, si baby berhenti di sebuah sajadah kain rada empuk dan cukup cozy untuk diduduki : sajadahku 😐

Orang yang sedang shalat adalah orang yang sadar, kan? Tidak mungkin kita tidak melihat apa yang terjadi di depan mata kita (kecuali kalau kejadiannya di samping kiri/kanan, ya ga sah dong shalatnya ngelirik-lirik). Lah ini tepat di tempat sujud kita πŸ˜€ Saya cuma bisa merespon dengan senyum, sambil berdoa ketika sedang membaca bacaan shalat, semoga si debay beranjak ketika saya sujud nanti.

Sayangnya tidak, hahahaa… dia masih aja ngetem di depan. Karena tidak mungkin menggusurnya atau malah tidak jadi sujud, saya beranjak sedikit ke kiri agar bisa melakukan gerakan sujud. Dan si baby tetap anteng tak bergerak. Ya Allah deeeek πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

 

Bangkit untuk raka’at kedua, baby pun ikut bangkit. Saya, dengan konsentrasi yang sedikit terusik, masih tetap merekah senyum. Dia kembali ngesot kesana-sini, dan lagi-lagi ngetem di sajadah saya ketika akan sujud. Begitu seterusnya hingga raka’at terakhir.

It’s not annoying at all. Saya justru merasa spesial karena dipilih dia, dan Allah mungkin sedang ngasi ujian dadakan juga tadi ke saya seberapa besar komitmen saya menegakkan shalat. Mungkin begitu. Wallahua’lam ^^

Selesai salam, saya tidak mampu lagi membendung kegemesan yang membuncah. Pipi bakpaonya langsung saya banjiri ciuman, dan dia masih tetap diam disana, di sajadah biru cozy-ku ❀


Moral values :

Yang pertama kali terpikirkan oleh saya tadi adalah : “Besok kalo punya baby sendiri kayak gini kali ya, rasanya shalat tapi si baby masih mau gelendotan dan ngajak main ibunya.”

Someday, saya, dan kamu, para perempuan, akan merasakan momen ini kembali, mungkin akan lebih sering, mungkin akan setiap hari. Pertahankan konsentrasimu selama shalat walaupun babymu begitu menggoda πŸ˜„ Jangan berikan respon negatif (marah, kesal, dll) karena ia mengganggu shalatmu. Respon positif dan ajakan yang lebih persuasif akan lebih ‘menyehatkan’ dan diterima dengan baik olehnya. All things that become minus (negative) is never gonna be good πŸ™‚

Dan betapa menyenangkannya ketika kita memperkenalkan gerakan shalat, mendengarkan bacaan shalat dan ayat Al-Qur’an, dengan penuh cinta ❀

 

 

Salam,

Saya

06052017 @ Jogja, Perumahan Giwang Pratama

Advertisements